Jumat, 18 Juni 2010

Defragmentasi Otak untuk Lebih Cerdas

Ditambah dan ditulis ulang
Oleh: Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University.


Tulisan Ringan

Sumber:
Romi Satria Wahono, B.Eng., M.Eng., D.Eng.

Founder Ilmu Komputer
(Doktor Sains Komputer Saitama University, Japan)
http://www.banjarcyberschool.co.cc
(Sekolah Maya Kota Banjar)

"Hmm, supaya pinter ya belajar mas hehehe."
Begitulah Om Romi, ketika ditanya, bagaimana kita bisa lebih Cerdas.
"Kalau dosen jawab seperti itu pasti disebut BASBANG alias basi banget Diskusi masalah kecerdasan manusia, tentu tidak bisa tanpa menyinggung masalah otak manusia, karena disini awal segala kisruhnya."

Kapasitas otak manusia sangat besar, bahkan ada yang menyebut tidak terbatas. Hanya sayangnya orang biasanya hanya menggunakan 1% dari otaknya, sedangkan orang jenius berhasil menggunakan 4-5% otaknya.

Lha kok bisa?
Dan bagaimana supaya kita juga bisa jadi cerdas?
Ikuti terus tulisan ini.
Otak manusia tersusun dari neuron-neuron yang jumlah totalnya mencapai 1 trilyun. Walaupun kecil, konon kabarnya satu neuron itu memiliki kecepatan pemrosesan yang setara dengan satu unit komputer.

Adam Kho lewat bukunya “I am Gifted, So Are You” mengatakan bahwa otak itu apabila dituliskan dalam bentuk digital akan menjadi tulisan sepanjang 10.5 juta kilometer. Ketika jarak terjauh bumi dan bulan itu sekitar 406.720 km, maka kapasitas otak kita setara dengan 25 kali perjalanan dari bumi ke bulan.

Tambahan informasi lagi, dari buku Super Great Memori dikatakan bahwa, jika setiap detik dimasukkan 10 informasi kedalam otak kita sampai 100 tahun, maka otak manusia masih belum terisi separuhnya.

Ada beberapa peneliti yang mencoba mengkuantifikasi kapasitas otak, ada yang menyebut 3 terabyte, dan ada juga yang menyebut mencapai 1000 terabyte. Sedemikian dahsyatnya kapasitas otak kita, tapi sayangnya kita hanya menggunakan kurang dari 1%nya. Dan orang jenius seperti Albert Einstein, konon kabarnya juga hanya menggunakan 5% dari seluruh kapasitas otaknya.

Artinya apa? Manusia memiliki kapasitas otak yang sama, yang implikasinya adalah sebenarnya kita semua memiliki daya tangkap terhadap suatu materi pembelajaran sama. Dan tidak ada manusia bodoh di muka bumi ini!

Lha kok, tapi di kelas ada yang cerdas dan ada yang tidak? Itu karena sistem retrieval (pencarian kembali) manusia berbeda-beda. Orang yang cerdas itu adalah orang yang memiliki sistem retrieval yang baik.

Seperti sebelumnya saya sebutkan diatas, kapasitas otak manusia mungkin mencapai 1000 terabyte, bayangkan seandainya laptop kita berkapasitas 1000 terabyte, pasti lambat melakukan pencarian file, apalagi kalau letak fisik filenya tidak tertata dengan baik alias terpecah-pecah di berbagai tempat dalam harddisk kita.

Trus gimana caranya supaya sistem retrievalnya bagus? Ada banyak cara komputasi yang bisa dilakukan, paling tidak untuk mengatasi informasi yang tidak tertata dengan baik, kita menggunakan tool defragmenter.

Defragmentasi? ya, lakukan defragmentasi pada otakmu!
Sebagai catatan, kata wikipedia, defragmentasi adalah sebuah proses untuk menangani berkas-berkas yang mengalami fragmentasi internal.
Sebuah berkas dikatakan terfragmentasi mana kala berkas tersebut tidak menempati ruangan yang saling berdekatan dalam penyimpanan fisik.

Fragmentasi dapat menyebabkan subsistem media penyimpanan melakukan operasi pencarian data yang lebih banyak, sehingga dengan kata lain berkas terfragmentasi dapat memperlambat kerja sistem, khususnya pada saat melakukan operasi yang berkaitan dengan media penyimpanan.

Jadi ketika kita menerima materi pelajaran, sebenarnya kita semua berhasil menangkap semua yang diajarkan oleh guru atau dosen kita. Namun ada yang kita simpan di bumi dan ada yang terlempar di bulan, inilah yang disebut dengan fragmentasi itu.

Trus gimana caranya supaya kita bisa mendefragmentasi otak kita? Caranya adalah dengan mengulang-ulangi pelajaran. Mengulang-ulang pelajaran, itu sama saja dengan menarik materi yang terlempar di bulan tadi supaya mendekat ke bumi, sehingga lebih cepat ketika kita mencari kembali.

Dan ini sesuai dengan yang dikatakan Adam Kho, bahwa orang yang cerdas adalah orang yang neuron-neuronnya saling tersambung (neuron-connection). Semakin banyak hubungan antarneuron, maka semakin cerdas kita dalam suatu bidang.

Kecerdasan itu bisa kita latih!
Sayapun tidak terlahir secara default sebagai orang cerdas, masa TK-SD saya pernah mengalami kendala sulit membedakan huruf b dan d. Sampai ada satu ungkapan guru saya yang masih saya ingat sampai sekarang, “Rom, b itu yang bokong(pantat)nya dibelakang, dan d itu yang bokongnya di depan“.

Ada juga guru yang menyebut saya terkena disleksia kompleks, plus ditambahi dengan anak yang suram masa depannya hehehe sempurna deh
Jadi? Kalau saya yang disleksia kompleks saja bisa, kenapa anda tidak?

Wahai pedjoeangku, ulang-ulangi pelajaran, banyak mencoba, banyak membaca, banyak berlatih, telani satu persatu hal yang belum kamu pahami, hubungkan neuron-neuronmu, maka kecerdasan akan mengikutimu …

Tetap dalam perdjoeangan!


Arip Nuarahman

Guru dan Dosen Profesional

Selasa, 18 Mei 2010

Membangun SDM Dasar Kota Banjar dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


Tulisan Berseri Pengelolaan Pendidikan Internasional Part-2


Oleh: Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University.


"Dia(Alloh S.W.T.)mengajarkan kepada manusia apa yang mereka tidak ketahui"
(QS 96: Al-Alaq: 5)

1. http://www.pgpaud.org/
(PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI/PG-PAUD)
2.http://www.pnfi.depdiknas.go.id/download/20090630085425/PAUD.html
(Pedoman dan Petunjuk Teknis Penyaluran Dana Bantuan Pendidikan Anak Usia Dini)
3.http://www.banjarcyberschool.co.cc
(Sekolah Maya Kota Banjar)
4.http://www.bitedu.co.cc
(Televisi Internet Pendidikan Kota Banjar)
5. http://fip.upi.edu/
(Fakultas Ilmu Pendidikan UPI)

~ Abstract
Early childhood education regards education in early childhood, one of the most vulnerable stages in life. According to the NAEYC (National Association for the Education of Young Children), it spans the human life from birth to age eight.

Kota Banjar haruslah mempunyai visi , misi kedepan yang terarah dan terukur, untuk menjalankan visi dan misinya tersebut, salah satunya diperlukan SDM yang berkualitas tinggi serta mumpuni. Pendidikan merupakan prioritas utama yang harus diperhatikan, dikembangkan dan tidak boleh dianggap main-main dalam penyelenggaraannya. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) menjadi awal mula generasi muda Kota Banjar tercinta mengecap pendidikan Dasar Awal, tentunya harus diperhatikan secara signifikan dan intensif.
Allhamdulilah, Kota Banjar beberapa waktu yang lalu memperoleh penghargaan dalam bidang pendidikan ini, semoga prestasi ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi menuju tataran Nasional dan Internasional.

~ Intro:
1. Akreditasi

Program Studi Pendidikan Guru Anak Usia Dini telah diakreditasi dengan nilai B berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Departeman Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 010/BAN – PT/Ak-X/S1/V/2007 tanggal 19 Mei 2007.

2. Gelar Lulusan

Gelar yang diperoleh dari lulusan program studi ini adalah Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

3. Visi

Pada tahun 2010 Jurusan/Program Studi Pendidikan Guru Anak Usia Dini yang memiliki keunggulan kompetitif dalam pengembangkan anak usia dini di Indonesia untuk menwujudkan masyarakat Indonesia yang maju, demokrasi dan sejahtera.

4. Misi

Jurusan/Program studi Pendidikan GuruAnak Usia Dini mengemban misi sebagai berikut:

* Menyelenggarakan pendidikan bagi calon pendidik anak usia dini yang profesional.
* Menyelenggarakan penelitian mengenai pendidikan anak usia dini
* Menjalin kerjasama dengan stakeholders untuk melakukan pembinaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan pada lembaga pendidikan anak usia dini
* Melaksanakan pengabdian di masyarakat dalam upaya mengembangkan pendidikan anak usia dini di Indonesia.

~ Contents:
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk:

1. Taman Kanak-kanak (TK),
2. Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk:

1. Kelompok Bermain (KB),
2. Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

~ Developmental domains
There are five different developmental domains of children which all relate to each other. They are easily referred to as the SPICE of life:

* Social-Refers mostly to the ability to form attachments, play with others, co-operation and sharing, and being able to create lasting relationships with others.
* Physical - Development of Fine (small) and Gross (large) Motor Skills.
* Intellectual - The process of making sense of the world around them.
* Creative - The development of special abilities creating talents. Music, Art, Writing, Reading, and Singing are all ways for creative development to take place.
* Emotional - Development of self-awareness, self-confidence, and coping with feelings as well as understanding them.
* Cognitive development - Concerning how children think and react.

Psychosocial According to Jean Piaget, there are four major stages of cognitive development:

1. Sensorimotor Stage. This stage occurs between the ages of birth and two years of age.Sensorimotor (infancy): During this stage, which includes six distinct substages, intelligence is demonstrated through motor activity with limited use of symbols, including language; the infant’s knowledge of the world is primarily based on physical interactions and experiences.

2. Preoperational Stage. The second stage occurs between the ages of two to seven years of age.During this stage,intelligence is increasingly demonstrated through the use of symbols; memory and imagination are developed as language use matures; thinking is nonlogical, nonreversible, and egocentric.

3. Concrete Operations Stage. Occurring between ages 7 and about 12 years. During this stage—characterized by conservation of number, length, liquid,mass, weight, area, volume—intelligence is increasingly demonstrated through logical and systematic manipulation of symbols relating to concrete objects; thinking is operational, reversible, and less egocentric.

4. Formal Operations Stage. The final stage of cognitive development (from age 12 and beyond)During this final stage, intelligence is demonstrated through the logical use of symbols related to abstract concepts; thinking is abstract, hypothetical, and early on, quite egocentric; it is commonly held that the majority of people never complete this stage.

* Emotional Development - Concerning children's increasing awareness and control of their feelings and how they react to these feelings in a given situation.
* Social Development - Concerning the children's identity, their relationships with others, and understanding their place within a social environment


Kebutuhan Pendidikan Anak Usia Dini Jangan Ditunda
(Belajar kepada Provinsi Sulawesi Utara). Usia dini pada nol sampai dengan 6 tahun merupakan usia emas yang harus mendapatkan perhatian maksimal. Pada usia tersebut, jika mendapatkan perhatian yang baik akan mampu mewujudkan kesejahteraan di masa yang akan datang.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) bagaikan pondasi yang kuat dan kokoh bagi perkembangan anak. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo menegaskan, agar jangan menunda kebutuhan bagi anak usia dini.

"Jangan menunda kebutuhan anak usia dini khususnya yang berkaitan dengan pendidikan, pelatihan, perlindungan, gizi, dan kesehatannya karena kalau ditunda maka lewatlah masa emas tersebut.
Mengingat pentingnya PAUD bagi anak usia dini maka pemerintah telah menetapkan kebijakan PAUD yang holistik terintegrasi," kata Mendiknas saat membuka acara Gebyar PAUD di lapangan Vatulemo, Palu, Sulawesi Tengah, 30/06/2009).

Hadir pada acara Gubernur Sulawesi Tengah Bandjela Paliudju, Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas Hamid Muhammad, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto, Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Sulawesi Tengah Abubakar Almahdali dan sebanyak 2.500 anak usia dini dan orang tua murid baru.

Gebyar PAUD yang baru pertama kali diselenggarakan di Indonesia ini dirangkai dengan kegiatan pameran. Sebanyak 42 stand pameran pesertanya berasal dari warga pendidikan nonformal dan informal. Pameran khusus pendidikan ini akan berlangsung sampai dengan 2 Juli 2009.

Mendiknas mengatakan, anak yang mengikuti PAUD akan lebih giat mengikuti pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Menurut Mendiknas, hal ini berarti juga akan menurunkan angka putus sekolah. "Pada akhirnya akan menurunkan biaya pendidikan yang dikeluarkan oleh orang tua maupun pemerintah di jenjang pendidikan berikutnya," katanya. PAUD, kata Mendiknas, juga merupakan fondasi untuk menanamkan nilai - nilai luhur pada anak dan cinta kepada sesama. Pemerintah, lanjut Mendiknas, telah berketetapan untuk terus berupaya agar seluruh anak usia dini di Indonesia dapat memperoleh layanan PAUD yang makin baik.

Kebijakan pemerintah ini, kata Mendiknas, hanya akan terwujud apabila didukung oleh pemerintah daerah dan masyarakat. "Layanan PAUD yang lebih merata dan bermutu harus segera direalisasikan karena usia dini merupakan usia emas perkembangan anak. Insya Allah kita akan memiliki generasi penerus yang handal," ujarnya.

Mendiknas mengatakan, angka partisipasi kasar (APK) PAUD di Provinsi Sulawesi Tengah masih relatif rendah . Untuk usia 0 - 6 tahun APK-nya baru mencapai 38,8 persen. Angka ini, kata Mendiknas, masih jauh dari target nasional 53,6 persen. "Ini berarti masih banyak anak usia dini di Sulawesi Tengah yang belum memperoleh layanan PAUD," katanya. Mendiknas menjelaskan, secara umum jumlah anak usia dini dipengaruhi oleh tingkat kelahiran anak setiap tahun. Mendiknas menyebutkan, tingkat kelahiran anak di Indonesia per tahun masih sangat besar yaitu mencapai sekitar empat juta jiwa.

"Jumlah anak usia dini lebih besar dari populasi anak usia sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, dan yang setara. Bahkan lebih besar dari seluruh penduduk Malaysia," katanya.

Gubernur Sulawesi Tengah Bandjela Paliudju menyampaikan, pendidikan anak usia dini akan difokuskan terhadap penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas dan kuantitas. Dia mengatakan, salah satu program terpadu pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Tengah dalam upaya meningkatkan APK PAUD adalah dengan mengintegrasikan dengan kegiatan Posyandu yang melibatkan dinas pendidikan dan dinas kesehatan. "Kegiatan tersebut telah dikemas dalam bentuk road show ke kabupaten dan kota," katanya.

Bandjela menyebutkan, penduduk Provinsi Sulawesi Tengah sebanyak 179.887 jiwa usia 2 - 4 tahun, sedangkan yang belajar di PAUD baru sebanyak 21.963 jiwa. Artinya, kata dia, kurang lebih angka partisipasi anak usia PAUD baru 12 persen, sehingga masih cukup rendah bila dibandingkan dengan angka partisipasi anak usia pendidikan dasar yang mencapai di atas 90 persen. "Oleh karena itu, kegiatan Gebyar PAUD ini merupakan sosialisasi yang diperlukan agar masyarakat Sulawesi Tengah semakin sadar dan memahami betapa pentingnya pendidikan anak usia dini," katanya.

~ wallohualam:
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar...(QS 3: Ali Imran: 110)

Terima kasih kepada:
Orang Tua dan Guru-Guru serta sahabat-sahabat semuanya. Pihak-pihak yang telah mendukung terangkainya tulisan inovasi, riset dan pengembangan ini. Alhamdulilah.

Penulis:
Mahasiswa Pendidikan Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia & Open Course Ware at MIT-Harvard University
Juga pengajar di TPA/RA Al-Wushto Isola Bumi Siliwangi UPI, Bandung.

Minggu, 18 April 2010

Kompetisi Matematika Amerika 8

AMERICAN MATHEMATICS COMPETITION 8

Ditambah dan ditulis ulang
Oleh: Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University


http://www.unl.edu/amc/index.shtml
(American Mathematics Competition)
http://www.tokobaedu.co.cc
(Tim Olimpiade Kota Banjar)
http://tomikoba.blogspot.com/
(Tim Olimpiade Matematika Kota Banjar)

Terima Kasih kepada:
Wael Alghamdi
(Dept. of Mathematics Massachusetts Institute of Technology)

~Seleksi di Indonesia
"Ki Bujangga ujaring maranggi, ditampina ku tawis pertanda, tangtos moal sapagodos, gelar-galur dua-tilu, reh nul-nutkeun jalanna dangding, sami gaduh ukiran, tah eta teh kitu, numutkeun pinter rajinna, nu perceka ingkar tina basa Kidib, ngantun kana hianat."
~Pupuh Dangdanggula~

"Life is good for only two things, discovering mathematics and teaching mathematics"
~Siméon Poisson~

Surya Institute (SI) together with Maths Oasis Pte. Ltd. and the Committee of the American Mathematics Competitions cordially invite your students to participate, along with many students worldwide, in the 2009 American Mathematics Contest (AMC) 8.

Date
Tuesday, November 17th (3 pm).
Venue

1. Global Nusantara International School – Meruya, West Jakarta
2. Bina Nusantara International School (in confirmation)-Serpong, Tangerang
3. Global Prestasi International School – Bekasi, West Java

Contest Registration Fee:

• Agustus - 10 September 2009 Rp 150.000
• 11 September - 30 Oktober 2009 Rp 175.000
• 31 Oktober - 12 November 2009 Rp 250.000

Transfer the Registration Fee to:
Yayasan Surya Institute
BCA, Branch : Supermal Karawaci
Account Number 7610358611

(Please fax the transfer receipt)
Contest Format :
• 25 multiple-choice questions

• Time limit : 40 minutes

• Pencil 2B is required (computerize answer sheet)

• No calculator

• No penalty for wrong answers

For inquiries, please contact Ms. Yuliana/Elia/Yulita by phone, sms, or email.

Phone : +6221 53163394-98 ext. 306 (working hour 8.30 WIB – 17.00 WIB)

SMS : +62856 926 230 56

Email : mat.asyik@gmail.com

Kompetisi di Amerika

2008-2009 Contest Dates:
November 18, 2008

The AMC 8 is a 25 question, 40 minute multiple choice examination in middle school mathematics designed to promote the development and enhancement of problem solving skills.

The examination provides an opportunity to apply the concepts taught at the junior high level to problems which not only range from easy to difficult but also cover a wide range of applications.

Many problems are designed to challenge students and to offer problem solving experiences beyond those provided in most junior high school mathematics classes.

Calculators are not allowed starting in 2008. High scoring students are invited to participate in the AMC 10.

A special purpose of the AMC 8 is to demonstrate the broad range of topics available for the junior high school mathematics curriculum. This is done by competencies.

The AMC 8 has the potential to increase the perceptions of the importance of problem solving activities in the mathematics curriculum by stimulating these activities both preceding and following the examination —specifically by studying the solutions manual.

Additional purposes of the AMC 8 are to promote excitement, enthusiasm and positive attitudes towards mathematics and to stimulate interest in continuing the study of mathematics beyond the minimum required for high school graduation.

Developmentally, junior high school students are at a point where attitudes toward school and learning, and perceptions of themselves as learners of mathematics are solidified.

It is important that they be provided opportunities that foster the development of positive attitudes towards mathematics and positive perceptions of themselves as learners of mathematics. The AMC 8 provides one such opportunity.

We encourage all students in grades 6, 7 and 8 to participate in the AMC 8. All USA, USA embassy, Canadian and foreign school students in grade 8 or below are eligible to participate.
AMC 8 Intramural Awards

* A Certificate of Distinction is given to all students who receive a perfect score.

* An AMC 8 Winner Pin is given to the student(s) in each school with the highest score.

* The top three students for each school section will receive respectively a gold, silver, or bronze Certificate for Outstanding Achievement.

* An AMC 8 Honor Roll Certificate is given to all high scoring students.

* An AMC 8 Merit Certificate is given to high scoring students who are in 6th grade or below.

The members of the Committee on the American Mathematics Competitions (CAMC) are dedicated to the goal of strengthening the mathematical capabilities of our nation's youth.

The CAMC believes that one way to meet this goal is to identify, recognize and reward excellence in mathematics through a series of national contests called the American Mathematics Competitions.

The AMC include: the American Mathematics Contest 8 (AMC 8) (formerly the American Junior High School Mathematics Examination) for students in grades 8 and below, begun in 1985; the American Mathematics Contest 10 (AMC 10), for students in grades 10 and below, new in 2000; the American Mathematics Contest 12 (AMC 12) (formerly the American High School Mathematics Examination) for students in grades 12 and below, begun in 1950; the American Invitational Mathematics Examination (AIME), begun in 1983; and the USA Mathematical Olympiad (USAMO), begun in 1972.

On Thursday, May 11, 1950 the first Mathematical Contest, sponsored by the New York Metropolitan Section of the Mathematical Association of America (MAA) took place.

It was given in 238 schools to 6,000 students in the New York area only. Today the contest is taken in every state and around the world. It is translated into braille, French, Spanish and Chinese, and has evolved into a series of five contests.

1950-2009
The
American
Mathematics
Competitions

Help us celebrate 60 years of the
American Mathematics Competitions
by registering your school to participate in the 60th annual
American Mathematics Contest 12
and the 10th annual American Mathematics

Contest 10. The AMC 10 is
designed for 9th and 10th grade students, and the AMC 12 is designed for 11th and 12th grade students.

Participation & Eligibility

Both AMC 10 and AMC 12 are 25-question, 75-minute multiple-choice contests administered in your school by you or a designated teacher. The AMC 12 covers the high school mathematics curriculum, excluding calculus.

The AMC 10 covers subject matter normally associated with grades 9 and 10. To challenge students at all grade levels, and with varying mathematical skills, the problems range from fairly easy to extremely
difficult. Approximately 12 questions are common to both contests. Students may not use
calculators on the contests.

AMC 12 Eligibility – A student in a program leading to a high school diploma, and under 19.5 years of age on the day of the contest.

AMC 10 Eligibility – A student in a program leading to a high school diploma, under 17.5 years of age on the day of the contest, and not
enrolled in grades 11 or 12 or equivalent.

Home schools must indicate the site of the exam (not the student’s home) and the name of the proctor (not a parent) and attach this information to the registration form. Please call
the AMC office for details.

PURPOSE

The Mathematical Association of America wants to increase interest in mathematics and to develop problem solving through a friendly,
and fun, competition. We believe that one way to meet this goal is to identify, recognize, and reward excellence in mathematics through a series of national contests.

Sample Questions

2008 AMC 10A

12. In a collection of red, blue, and green marbles,
there are 25% more red marbles than blue
marbles, and there are 60% more green marbles
than red marbles. Suppose that there are r red
marbles. What is the total number of marbles in
the collection?

(A) 2.85r
(B) 3r
(C)3.4r
(D) 3.85r
(E) 4.25r

2008 AMC 10A/12A

10A-4; 12A-3. Suppose that ⅔ of 10 bananas are
worth as much as 8 oranges. How many oranges
are worth as much as ½ of 5 bananas?
(A) 2
(B) 5/2
(C) 3
(D) 7/2
(E) 4

10A-13; 12A-10. Doug can paint a room in 5 hours.
Dave can paint the same room in 7 hours. Doug
and Dave paint the room together and take a
one-hour break for lunch. Let t be the total time,
in hours, required for them to complete the job
working together, including lunch. Which of the
following equations is satisfied by t ?

(A) (1/5+1/7) (t + 1) = 1
(B) (1/5+1/7) t + 1 = 1
(C) (1/5+1/7) t = 1
(D) (1/5+1/7) (t – 1) = 1
(E) (5 + 7)t = 1

2008 AMC 12A

14. What is the area of the region defined by the
inequality |3x – 18| + |2y + 7| ≤ 3 ?

(A) 3
(B) 7/2
(C) 4
(D) 9/2
(E) 5

18. Triangle ABC, with sides of length 5, 6, and 7,
has one vertex on the positive x-axis, one on
the positive y-axis, and one on the positive zaxis.
Let O be the origin. What is the volume of tetrahedron OABC?

(A) √ 85
(B) √ 90
(C) √ 95
(D) 10
(E) √105

"Ilmuwan sejati selalu membaca dan menulis. Tanpa membaca ia berada dalam kegelapan, tanpa menulis ia tidak mencerahkan umat yang berada dalam kegelapan."
~Prof. Dr. H. A. Chaedar A., M.A., Ph.D.~
Guru Besar UPI

"Jangan takut jadi miskin karena mempelajari sains. Sebab, urusan rizki itu urusan Allah SWT."
~Prof. Freddy Permana Zen, D.Sc. Guru besar fisika tingkat tinggi ITB~
Semoga Berhasil!



Arip Nuarahman

Guru dan Dosen Profesional

Minggu, 07 Maret 2010

Konferensi Internasional Lesson Study Ke-2 dalam Upaya Peningkatan Kualitas Guru

Sebuah Perbandingan di Negara Jepang
1.http://www.naruto-u.ac.jp/
(Naruto University of Education )
2.http://www.id.emb-japan.go.jp/infcul.html
(Kedubes Jepang bagian Pendidikan dan Kebudayaan)
3. http://www.jpf.or.id/
(Japan Foundation)
4. http://www.jica.or.id/
(Japan International Cooperation Agency)
“Lesson Study: Learning reform for Quality Improvement in Education”

~ Lesson Study in Japan
Prof. Hiroaki Ozawa, Ph.D.
(International Cooperation Center for the Teacher Education and Training)
Naruto University of Education, Naruto 772-8502, Japan.
e-mail: hiroaki@naruto-u.ac.jp

~ Preface:
"Shippai wa Seikô no Moto"
(Kesalahan adalah Pangkal Kesuksesan)
"Warau Mon niwa Fuku Kitaru"
(Keberuntungan akan Datang di Tempat yang Ada Tawanya)

The committee appreciates your contribution and participation in the 2nd International Conference on Lesson Study. Your participation in the conference will create an information exchange forum to share best practice of lesson study.
It is expected that we will come up with a common understanding of the various aspect of lesson study implementation for improving learning quality.

~ Abstract
Lesson study is an activity by teachers and for teachers to improve their lessons through their collaboration. Lesson study is cyclical process and involves planning the lesson (Plan), presentation of a lesson (Do), and reflecting on the lesson (Check) to improve next lesson (Action).

In Japan, lesson study methodology is introduced to future teachers in pre-service training. University student learn how to make lesson plans, how to develop teaching and learning materials, how to discuss in post lesson conference. Lesson study is applied in various situations for in-service training for mentoring a novice teacher, an experience teacher is assigned and they teach in the same class, observe each other and exchange opinions after the lessons.

Lesson study is one of important components for annual school improvement activity. Research objectives of the school are set based on the current situation of students and organization for lesson study is established.
Lesson study is conducted monthly or bimonthly as short PDCA (Plan, Do, Check, Action) cycle.
The changes of the students are assessed at the end of year (Long PDCA cycle). Also there are voluntary associations for teachers who conduct Lesson study.

~ Sekilas Lesson Study
Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk :
(1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar;
(2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran;
(3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif.
(4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.

~ Manfaat yang yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya:

(1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya,
(2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan
(3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari:
(a) Perencanaan (plan);
(b) Pelaksanaan (do);
(c) Refleksi (check);
dan
(d) Tindak lanjut (act).

~ Hakikat Lesson Study
Konsep dan praktik Lesson Study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah kenkyuu jugyo. Adalah Makoto Yoshida, orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan kenkyuu jugyo di Jepang.

Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan Lesson Study tampaknya mulai diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993.

Sementara di Indonesia pun saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada awalnya, Lesson Study dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan pendidikan tinggi.

Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data.

Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial.

Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Sementara itu, Catherine Lewis (2002) menyebutkan bahwa:

“lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.

Bill Cerbin & Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk :
(1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar;
(2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta Lesson Study;
(3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif.
(4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu:

Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.

Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa. Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.

Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung.

Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.

Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis mengemukakan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat:
(1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa,
(2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan,
(3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study),
(4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa,
(5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran,
(6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan
(7) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas.

Sementara itu, menurut Lesson Study Project (LSP) beberapa manfaat lain yang bisa diambil dari Lesson Study, diantaranya:
(1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya,
(2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan
(3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, manfaat yang ketiga ini dapat dijadikan sebagai salah satu Karya Tulis Ilmiah Guru, baik untuk kepentingan kenaikan pangkat maupun sertifikasi guru.

Terkait dengan penyelenggaraan Lesson Study, Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan Lesson Study, yaitu Lesson Study berbasis sekolah dan Lesson Study berbasis MGMP.
Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan.

Sedangkan Lesson Study berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi.

Dalam hal keanggotaan kelompok, Lesson Study Reseach Group dari Columbia University menyarankan cukup 3-6 orang saja, yang terdiri unsur guru dan kepala sekolah, dan pihak lain yang berkepentingan. Kepala sekolah perlu dilibatkan terutama karena perannya sebagai decision maker di sekolah.

Dengan keterlibatannya dalam Lesson Study, diharapkan kepala sekolah dapat mengambil keputusan yang penting dan tepat bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya, khususnya pada mata pelajaran yang dikaji melalui Lesson Study. Selain itu, dapat pula mengundang pihak lain yang dianggap kompeten dan memiliki kepedulian terhadap pembelajaran siswa, seperti pengawas sekolah atau ahli dari perguruan tinggi.

~ Terima Kasih Semoga Bermanfaat!
Hubungan Lokal:
1. RINI KOBA (Ririungan Nihongo Kota Banjar)
~Tempat Kumpul Orang Banjar Penggemar aneka Jepang~
2. Anime SMANSABAN Fans Club
3. Manbaul Ullum Japanese Studies

1. http://www.banjarcyberschool.co.cc
(Sekolah Maya Kota Banjar)
2. http://www.bitedu.co.cc
(Televisi Internet Pendidkan Kota Banjar)

Rabu, 06 Januari 2010

Kurikulum TIK untuK TK / SD, SMP dan SMA



(Para Siswa Sedang Belajar sambil Bermain di SDN Bangunharja)

Belajar Sambil Bermain dengan Komputer

Anak belajar melalui permainan mereka. Anak-anak yang masih kecil sebetulnya sudah melakukan proses belajar dengan cara mereka sendiri, terlepas dari sekolah atau homeschool. Menurut pendapat saya, sebuah rumah sudah merupakan tempat yang cukup besar untuk balita bereksplorasi. Apakah anda pernah mendengar balita yang tidak berkeliling dan mencoba memegang/meneliti semua barang yang dilihatnya ?
Main ! Main ! Main ! Bermain merupakan hal utama bagi anak kecil. Anak belajar melalui permainan mereka. Mereka belajar tentang badan mereka, lingkungan mereka, orang-orang sekitar mereka.
Anda dapat terus membaca halaman ini atau langsung ke halamankegiatan membaca, kegiatan matematika, atau ide kegiatan preschool.
Pentingnya bermain
Sejak lahir anak mempunyai rasa ingin tahu. Mereka ingin tahu bagaimana dunia mereka. Bayi belajar dengan cara berinteraksi dengan orang di sekitar mereka, dengan menggunakan indera mereka.
Perhatikan bayi anda dan lihatlah proses belajar yang mereka lakukan.
Saya senang sekali memperhatikan bayi ketika mereka baru berusia beberapa hari. Bagaimana mereka berusaha memasukkan ibu jarinya ke mulut untuk disedot. Bagaimana mereka berusaha mengeluarkan tangannya dari bedong mereka.
Anak belajar melalui permainan mereka. Orang dewasa sebaiknya ikut dalam permainan tersebut. Mainan tidak terlalu penting karena orangtualah mainan utama bagi anak-anak.
(Early Years Homeschool)

From SpeedyWiki

Sumber: Onno W. Purbo, B.Sc., M. Sc., Ph.D.
Sering kali kita menjadi tidak kreatif dan mengajarkan anak-anak untuk menggunakan komputer seperti orang dewasa. Banyak sekolah dasar di Indonesia mengajarkan komputer untuk anak-anak untuk keperluan mengetik, membuat presentasi, menghitung menggunakan spreadsheet yang sebetulnya tidak cocok untuk anak-anak.
Dunia komputer jauh lebih luas daripada sekedar mengetik, membuat presentasi dan menghitung spreadsheet. Pada kesempatan ini akan di jelaskan khususnya untuk sistem operasi Linux, karena memang jauh lebih banyak aplikasi pendidikan yang menarik dan bebas / gratis diLinux di bandingkan di sistem operasi Windows.

Contents

Cara Belajar Sambil Bermain


Pengalaman saya dalam belajar sambil bermain. Di awal proses belajar tersebut tampaknya anak tidak mungkin kita lepas sendiri karena kemungkinan tidak tahu arah kemana harus mencari atau menggunakan aplikasi pendidikan.
Sangat di sarankan bahwa anak-anak terutama untuk pra-sekolah dan TK di dampingi oleh guru atau orang tua dalam proses belajar tersebut. Tapi untuk SD, mungkin ada baiknya dibuat suasana kompetisi atau kerjasama kelompok dalam belajar sambil bermainkomputer tersebut karena memang software yang ada sangat memungkinkan hal ini terjadi.

Aplikasi Belajar Sambil Bermain

Konsep yang di kembangkan mungkin lebih cocok di sebut belajar sambil bermain. Aplikasi belajar perlu di tambahkan ke Ubuntu yang normal, karena Ubuntu yang normal biasanya belum di instalasi aplikasi untuk belajar ini. Bagi anda yang menggunakan Sabily, yang merupakan turunan Ubuntu, maka anda cukup beruntung karena Sabily sudah menambahkan beberapa aplikasi untuk pendidikan ini ke dalam desktop. Detail tentang cara menambahkan aplikasi pendidikan di Ubuntu akan di jelaskan sesudah ini.
Kumpulan aplikasi pendidikan pada dasarnya dapat di akses melalui dua (2) menu, yaitu,
Applications → Education
Applications → Games
Sebagian besar memang adanya di Education. Tampak pada gambar adalah menu aplikasi pendidikan yang ada di menu Education.
Aplikasi pendidikan yang ada pada menu Games memang tidak sebanyak pada menu Education karena memang lebih banyak Games di situ. Salah satu Games pendidikan yang mungkin akan menarik untuk di lirik adalah:
Tux Math
Tux Typing
Walaupun bentuknya game, tapi menarik untuk digunakan untuk pendidikan.

Contoh Software Pendidikan untuk Pra-Sekolah & TK


Salah satu aplikasi paling klasik untuk pendidikan pra-sekolah adalah Tux Paint. Tux Paint pada dasarnya adalah aplikasi untuk menggambar. Bedanya dengan Paint Brush di Windows, Tux Paint sudah di lengkapi dengan banyak fasilitas yang membuat menggambar menjadi sangat menyenangkan. Salah satu yang mungkin akan membuat anak-anak menjadi suka adalah fasilitas Stamp. Menggunakan fasilitas Stamp Tux Paint menyediakan gambar-gambar yang sudah jadi, tentang Hewan, topi, pesawat dan banyak lagi. Yang menariknya lagi, pada saat anak mengklik salah satu gambar hewan tersebut maka Tux Paint akan mengeluarkan bunyi suara hewan yang di maksud. Jadi anak-anak menjadi tahu bentuk, gambar dan suara hewan tersebut.
Cara menggunakan Tux Paint sangat mudah sekali, mungkin yang perlu di arahkan adalah kreatifitas anak dalam berkarya menggambarkan dan memvisualisasikan apa yang ada di benak mereka dalam bentuk gambar-gambar.

Contoh Software Pendidikan untuk SD


Tux Math barangkali software paling klasik untuk pelajaran matematika di SD. Berbeda dengan proses belajar yang lain yang lebih banyak berupa latihan (drill). Tux Math berbentuk game, anak-anak akan di ajak untuk berlomba-lomba menjawab / mengisi angka dari pertanyaan matematika. Jika gagal beberapa kali menjawab pertanyaan maka “meteor” yang berisi pertanyaan akan menghancurkan Iglo tempat Pinguin mengamankan diri dan akhirnya akan hancur. Mereka yang dapat secara cepat menjawab pertanyaan akan memperoleh skor yang paling tinggi dan jadi pemenang.
Game seperti ini akan menjadi menarik karena di suasana kompetisi sangat terasa. Ada beberapa tingkat kesulitan yang di tawarkan oleh Tux Math, mulai dari yang sangat sederhana seperti tambah kurang, hingga tingkat yang lebih rumit seperti kali bagi hingga jawaban minus.
Untuk menambah tegang suasana Tux Math juga mengeluarkan suara / musik yang akan terasa jika komputer di sambungkan ke Speaker.

Kumpulan software aplikasi yang tidak kalah menarik bagi anak-anak SD adalah Gcompris yang berisi sangat banyak game untuk mendidik anak. Game yang ada membantu akan dalam berhitung, membaca dan aktifitas motorik anak, mengenali keyboard, mengenali mouse dan masih banyak lagi. Sambil bermain. Bahkan anak saya sampai kelas 3 SD sangat suka dengan game ini.

Contoh Software Pendidikan untuk SMP


Untuk SMP dan juga untuk SD, barangkali Marble akan menjadi sangat menarik. Marble adalah aplikasi yang menggambarkan Bola Dunia. Kita dapat berjalan-kalan di bola dunia dan mencari tempat-tempat yang menarik.
Marble mempunyai fasilitas untuk memutar Bola Dunia, men-Zoom supaya lebih jelas dan masih banyak lagi. Dengan demikian kita dapat melihat posisi tempat dengan lebih detail.

Jika tersambung komputer yang kita gunakan tersambung ke Internet, Marble mempunyai fasilitas yang lebih lengkap untuk memperoleh informasi tentang tempat yang kita inginkan. Dalam contoh di perlihatkan informasi tentang Kota Bandung yang di peroleh Marble dari Wikipedia.

Contoh software pendidikan lain yang tidak kalah menarik untuk tingkat SMP adalah Kstar atau Stellarium. Kedua software ini lebih di fokuskan pada dunia astronomi / bintang.
Yang menarik dari software Kstar, jika komputer yang kita gunakan tersambung ke Internet dengan kecepatan tinggi, maka kita dapat mencari gambar-gambar bintang, bulan dan planet yang ada di tata surya dari hasil jepretan kamera milik NASA atau observatorium yang di dunia.

Tampak pada gambar adalah foto dari Crab Nebula yang di ambil oleh Hubble Space Telescope yang di operasikan oleh STScl untuk NASA. Gambar ini di ambil menggunakan Kstar yang tersambung ke Internet. Kita pada dasarnya dapat dengan mudah mengambil banyak sekali gambar-gambar bintang yang mungkin tidak kita kenali di pelajaran sekolah yang normal.
Disini kita bisa banyak belajar tentang kebesaran Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya.

Contoh Software Pendidikan untuk SMA


Untuk tingkat SMA jika di gali akan sangat banyak software yang akan membantu pendidikan di SMA. Salah satu yang mungkin akan memecahkan momok pelajaran SMA adalah tabel periodik pelajaran Kimia. Software aplikasi Kalsium akan sangat membantu dalam memecahkan masalah tersebut.

Di Kalium pun terdapat fasilitas untuk memecahkan persamaan Kimia sehingga dengan mudah kita dapat mengetahui apa yang harusnya terjadi.

Salah satu yang menarik adalah jika kita mengganti legenda / skema dari kalsium agar di perlihatkan aplikasi masing-masing unsur kimia di kehidupan sehari-hari seperti tampak pada gambar.

Menambahkan Software Pendidikan di Ubuntu


Menambahkan software, termasuk software pendidikan, di Ubuntu yang paling sederhana adalah melalui menu Add/Remove Software yang terdapat di Applications → Add/Remove Software. Pada menu Add/Remove Software terdapat daftar berbagaisoftware yang sudah di kelompokan ke dalam beberapa kelompok besar software, seperti,
Accessories
Education
Games
Graphics
dan masih banyak lagi. Kita cukup memilih software yang akan kita install; kemudian menekan tombol “Apply Changes”.
Pada software aplikasi pendidikan terdapat beberapa aplikasi seperti,
Pre-School Bundle - bundel program belajar pra-sekolah.
Primary Bundle         - bundel program belajar tingkat SD
Secondary Bundle - bundel program belajar tingkat SMP
Tertiary Bundle - bundel program belajar tingkat SMA
Education suite Gcompris – kumpulan program belajar untuk 2-10 tahun.
KAlgebra - belajar aljabar
KBruch         - belajar pecahan
KGeography - program untuk membantu belajar geografi.
KHangMan - game hangman / orang yang di gantung
KLettres - program untuk belajar alfabet
KStars  - Planetarium di desktio
KTouch         - Tutor untuk mengetik
KTurtle - Lingkungan pemrogramman untuk pendidikan
KWordQuiz - program untuk belajar vocabulary
Kalzium - tabel periodik kimia
Kanagram - game urutan huruf
Kig  - Mengexplorasi konstruksi geometri
KmPlot         - Plotter fungsi matematika
Marble  - Desktop bola dunia
Parley  - trainer vocabulary
Step  - simulasi experimen fisika
Tux Paint - menggambar untuk anak


Jika kita mengganti parameter Shows menjadi Shows: All Open Source Applications maka akan di perlihatkan banyak sekali software tambahan yang dapat kita tambahkan untuk pendidikan. Memang sebagian adalah software untuk pendukung penelitian di tingkat perguruan tinggi. Perlu di catat bahwa parameter default untuk Shows adalah “Canonical maintained applications” yang jumlahnya lebih sedikit.
Contoh software pendidikan yang ada seperti:
CTSim  - mensimulasi proses dari tomografi menggunakan X-ray.
Celestia  - mengexplorasi jagat raya.
BKchem  - untuk menganalisa struktur dan reaksi kimia.
Dan masih banyak lagi, yang sebaiknya di explor sendiri oleh para pembaca.

Untuk menginstalasi aplikasi pendidikan ini tidak sukar, cukup di klik saja pada aplikasi yang kita inginkan. Kemudian tekan tombol “Apply Changes” di sebelah kanan bawah nanti Ubuntu akan meminta konfirmasi apakah kita ingin menginstall software yang kita inginkan. Jika kita ingin benar-benar menginstalasi software tersebut, tekan tombol “Apply”. Dalam contoh kita sedang berusaha untuk menginstalasi software KGeography yang akan membantu seorang anak dalam belajar Geografi.
Masalah yang biasanya akan timbul adalah kita biasanya membutuhkan sambungan ke Internet, karena umumnya semuasoftware ini tersedia bebas untuk di instalasi dari Internet. Bagi mereka yang tidak mempunyai akses ke Internet, atau akses keInternet terasa lambat. Sangat di sarankan untuk membeli DVDrepository semua software aplikasi Ubuntu dari situs Juragan Kambing yang beralamat di http://juragan.kambing.ui.edu.

Penutup

Demikin tulisan singkat tentang aplikasi open source untuk dunia pendidikan ini. Semoga dapat membuat cerah dunia pendidikan di Indonesia.

Pranala Menarik

Ucapan Terima Kasih:

Kepada Semua Sumber, terutama Bpk. Onno W. Purbo, Ph.D. Semoga amal baik bapak dapat dilipatgandakan oleh yang maha kuasa, amin!

Ditulis ulang oleh:

Arip Nurahman
Pendidikan Fisika, FPMIPA. Universitas Pendidikan Indonesia
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, Cambridge. USA.
&

Wawan Nurwana, S.Pd., S.D.

Terima Kasih Semoga Bermanfaat

Jumat, 18 Desember 2009

Memanfaatkan Situs Jejaring Sosial untuk Pendidikan

Belajar dengan Face Book, Friendster, Blog, Youtube dan Situs-situs Persahabatan lainnya

(Membuat Belajar Lebih "Asyik" dan Bersemangat)

http://www.banjarcyberschool.co.cc
http://seneby.wordpress.com

Contributors:

All SENEBIAN
(Alumni Generasi Pertama SBI SMAN 1 Banjar)

From Overseas:

1.Wael Alghamdi (Dar Al Fikr School 2007
Saudi Arabia)
2.Carolina Ibarra Castro (Chile)
3.Nuria Inés T.
(UNLP Argentina 05 & Universidad Politécnica de Catalunya,Ingeniería Aeronáutica
08)

Advisers:

Bpk. Dr. Onno W. Purbo, M.Sc.
(Pakar Telematika)
Bpk. Madyani Yogi Atmaja, Ph.D
(SITA & MIT)
Bpk. Arvino Mudjiarto
(President WorksCode Indonesia)
Bpk. Dadi Darmadi, Ph.D.
(Harvard University)
Bpk. Taufik Hidayat, M.Sc., Ph.D.
(University of Tokyo, Lecture in UPI)

Gembleng sauyunan
Singkil babarengan
Ngangkat darajat Ki Sunda
Moal saha deui
Anu bela pati
Ngan Ki Sunda berjuang
Ngabela hakna.
(Mang Koko)

Hope is dreaming of tomorrow
Hope is simmering under sorrow
-Vineet Bansal-

"Korobanu saki no tsue"
-bersedia-sedia lebih dahulu, meringankan kesukaran-kesukaran pada kemudian hari-

"Kannan kanji o tama ni su"
-penderitaan atau kesukaran-kesukaran membuat kamu menjadi permata-

OL (Online Learning)

Abstract

Online learning descends from computer-based training, interactive multimedia (dating from laser discs and more recently, CDs with online learning) and integrated learning centers.

With the internet boom since the mid 1990s, the concept of online learning has spread broadly. Online Learning can be thought of as a subset of the broader e-learning category because it refers specifically to content delivered via the Internet or Intranet.

For the younger children, there are free learning sites ranging from those that provide worksheets such as to those with interactive exercises. But, it is left to the parent to provide continuity, determine progress, and to assemble an overall program.

There are online subscription services for children that track the children and provide assessment, placement, continuity, and reports.

There are online universities ranging from legitimate distance learning systems to fly-by-night degree-mills.

Businesses use online learning to provide cost-effective training to their employees, partners, and customers.

As the number of students taking online classes continues to grow at a quick pace, the second wave of online college students is different: they are students who know the ingredients of a good online class, who are picky about which ones they sign up for and who will drop a class if the teacher turns out to be a dud. They are the new, savvy consumers of online education.

In response to their higher expectations, providers of online education are incorporating increasingly sophisticated teaching approaches such as educational animation that address the challenges of presenting dynamic content to learners.

Intro:

Situs-situs jejaring sosial sudah mulai dirasakan menghangat di negeri kita, Indonesia. Dari mualai FS (Friendster), FB (Facebook), Blog, Youtube dan lain-lain. Banyak pro dan kontra mengenai kemunculan sarana dunia maya ini, "Bagaikan dua sisi mata pedang", ungkap para pujangga.

Secara Filosofis setiap materi atau hakikat sesuatu, memang akan menimbulkan dampak negatif dan positif, namun disini jelas selaku pelajar dan generasi muda harapan bangsa kita harus arif dan bijaksana menyikapi permasalahan ini. "Dipositifkan saja", kata para ahli telematika.

Mari Ke Sekolah Cyber

Sejak dunia internet berkembang pada awal 1990-an, dan mulai memasuki Indonesia, kita diperkaya dengan sejumlah kosa kata (vocabulary) yang benar-benar baru dan terkesan sedikit ‘gagah’ seperti cyber-space, cyber-city, cyber-school, cyber-medicine.

Kata cyber dikonotasikan dengan sesuatu yang maya, sehingga kata cyber-space secara mudah dapat diartikan dengan dunia maya – suatu dunia yang kasat mata tetapi bisa dilihat dan dirasakan dengan perantara produk teknologi, seperti komputer dan peranti telekomunikasi. Lalu, dari mana dan bagaimana kata cyberspace itu muncul dan mulai meluas?

Ternyata, istilah itu berasal dari sebuah karya fiksi ilmiah. Pada tahun 1984, terbit Neuromancer, sebuah fiksi ilmiah yang berkisah seputar jalinan hubungan antara otak manusia dan jaringan komputer.

Dalam novel karangan William Gibson itulah, istilah cyber-space muncul untuk pertama kalinya. Kini, di ujung abad ke-20 ini, teknologi informasi dan komunikasi kian berkembang luar biasa, sehingga gambaran cyber-space yang dikhayalkan Gibson kian menjadi nyata.

Akhirnya kita bisa memahami makna cyber-space secara lebih konseptual. Yang paling sederhana adalah konsep dari Joan Buick dan Zoean Jevtiec, pengarang buku panduan bergambar buat para pemula, Mengenal Cyberspace.

"Cyberspace akhirnya diartikan sebagai kombinasi teknologi informasi, penyimpanan, dan pencarian dengan telekomunikasi global dan reproduksi audio-visual domestik," tulis Buick dan Jevtic.

Lebih filosofis lagi, cyber-space pada tingkat tertentu, dapat dilihat – bahkan dirasakan -- sebagai gaya hidup."Gaya hidup web," kata jugermaut industri perangkat lunak dan CEO Microsoft, Bill Gates.

Ia memang percaya world wide web yang merupakan kehandalan internet akan memberikan manfaat dan sejumlah kemudahan bagi kehidupan manusia – termasuk untuk mewujudkan suatu "masyarakat tanpa kertas", terutama untuk masa yang akan datang.

Gagasannya tentang masa depan memang tidak bisa dipisahkan dengan gagasannya mengenai suatu jaringan dunia, di mana "sebuah komputer pada setiap meja, dan di setiap rumah".

Percontohan Cyber School di Indonesia

Meski sejak beberapa bulan terakhir ini, Indonesia mencanangkan proyek Nusantara-21, kita melihat belum ada langkah yang bisa dikatakan sebagai kemajuan terhadap gagasan tersebut.

Berbeda dengan negara tetangga kita, Singapura yang sudah meluncurkan Singapore-ONE (One Network for Everyone)atau Malaysia yang sudah memulai proyek MSC (Multimedia Super Corridor). Malaysia bahkan mengundang Bill Gates berbicara di Kuala Lumpur pertengahan Maret lalu.

Dalam proyek itu, Malaysia yang juga berhasil menggaet Gates untuk berinvestasi, membangun sekolah-sekolah cerdas (Smart Schools) dan sebuah lembaga diklat untuk melahirkan programmer handal, Malaysian Young Programmer Club (MyPC).

Maka, tanpa gembar-gembor sebelumnya -- dan bukan merupakan bagian dari rencana Nusantara-21 yang kini entah mengendap di mana -- di tengah krisis moneter pula, tiba-tiba sebuah percontohan cyber school yang menggunakan berbagai fasilitas internet seperti net meeting, tele-conferencing dan video-conferencing (berbeda dengan virtual school atau virtual university yang sekadar memanfaatkan tutorial lewat fasilitas web semata) untuk sejumlah SMU (Sekolah Menengah Umum) sudah dilakukan di Bandung.

Artinya, cyber school terkesan lebih aktif, tetap membutuhkan ruang kelas, ruang seminar dan sejumlah peralatan labor – dan boleh dikatakan lebih "nyata".

Sebagai tahap awal merealisasikan pembentukan jaringan pendidikan itu ke seluruh Indonesia, Sonny Sugema College(SSC)sebagai penyedia fasilitas, saat ini baru merangkul sejumlah SMU Depdikbud di Kotamadya Bandung, kata Presiden Direktur SSC, H. Sonny Sugema, MBA di Bandung,(Antara, 15/4/98).

Dalam acara peresmian jaringan pendidikan melalui internet antara SSC bekerjasama dengan Kandepdikbud Kotamadya Bandung dan PT Indosat, ia mengatakan, dalam tahap selanjutnya selain SMU akan dikembangkan ke sekolah-sekolah lanjutan pertama (SLTP) dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Jaringan pendidikan melalui internet yang pertama kali diterapkan di Indonesia itu, menurut Sonny, sampai saat ini sudah terjaring tujuh SMU Negeri di Bandung yang telah diresmikan dan online serta memiliki web sites (situs web/halaman informasi) di internet, yaitu SMUN 23, SMUN 2, SMUN 3, SMUN 5, SMUN 8, SMUN 22 dan SMUN 1, sekaligus dijadikan proyek percontohan dalam pengembangan kegiatan selanjutnya.

Dalam mewujudkan terbentuknya jaringan pendidikan tersebut, untuk langkah awal, PT Indosat sebagai provider (penyedia jasa layanan internet) telah bersedia memberikan 27 account (suatu saluran dari provider yang memungkinkan komputer mengakses atau diakses internet) secara cuma-cuma kepada SSC selama enam bulan. SSC sebagai penyedia fasilitas hosting dan multimedia gratis kepada sekolah-sekolah, mendistribusikan ke 27 account gratis tersebut ke 27 sekolah dan lembaga terkait yang sudah menjadi anggota jaringan pendidikan.

Untuk hosting, SSC menyediakan fasilitas multimedia secara cuma-cuma kepada sekolah-sekolah yang sudah menjadi anggota. Fasilitas yang ditawarkan meliputi free e-mail dan free homepage basic design secara gratis, net meeting, tele-conferencing dan video-conferencing yang memungkinkan sekolah-sekolah tersebut menyelenggarakan proses belajar mengajar jarak jauh.

Semoga bermanfaat

"SALAM PENDIDIKAN UNTUK PERADABAN"

References:

The Technology of Teaching
# ^ Holmberg, B. (2005). The evolution, principles and practices of distance education. Bibliotheks-und Informationssystem der Universitat Oldenburg. p. 13.
# ^ Moore, Michael G.; Greg Kearsley (2005). Distance Education: A Systems View (Second ed.).Belmont, CA: Wadsworth. ISBN 0-534-50688-7.
# ^ "Key Facts", University of London External Programme Website, http://www.londonexternal.ac.uk/about_us/facts.shtml
# ^ White, M. (1982). 'Distance education in Australian higher education — a history', Distance Education, Vol. 3, Issue 2, pp. 255-278.

Para Penulis:

1. Achmad Yozar P. (UNSOED)
2. Ade Akhyar N. (UNSOED)
3. Adinugroho S. (UNSOED)
4. Aditya Wahyu T. (IPB)
5. Agung Febrianto (UNSOED)
6. Ani Herawati (UNPAD)
7. Arif Nurahman (UPI)
8. Christian Suhindar (MARANATHA)
9. Diah Restu W. (STMB)
10. Dian Cesar M. (UPI)
11. Dian Hadiana (IT Telkom)
12. Dine Risdiani (UPI)
13. Dini Mahdiani (ITB)
14. Dita Juwita S. (UNPAD)
15. Estin Nofiyanti (UNY)
16. Ferra Wulandari D.S. (UPI)
17. Fitri Dwiyanti (STIS)
18. Fitria Intansari (UPI)
19. Genta Nazwar T. (UNPAD)
20. Gina Riadilah (STAN IM)
21. Ginanjar Fahrul M. (ITB)
22. Hendri Agus H. (AKMIL Magelang)
23. Heni Henrayani (UPI)
24. Irene K. (UNSOED)
25. Ita Dwi K. (IPB)
26. Kurniawan (STIKES BP)
27. Lia Rosmalia (UPI)
28. Meta N. (MARANATHA)
29. Lucky Nurhalim (STMB)
30. Merry Anggraeni (UNY)
31. Nano Kuswoyo (UNSOED)
32. Nararya Rahadyan B. (UNY)
33. Novia W. (STA Bandung)
34. Putri Ayu K. (UNPAD)
35. Ricky Taufiqurrohman (UGM)
36. Riki (Universitas Indonesia)
37. Rina (ST Islam)
38. Sesty Dian R. (UNPAD)
39. Tria Yodhiaswara (UNSOED)
40. Yuni Susilawati (UPI)
41. Yuyun Rahayu (UPI)

Selasa, 17 November 2009

Koshiba, Nilai Merah Mendapat Nobel

Contributors:

Herni Yuniarti S. (Physics UPI)
Angga Fuja Widiana (Physics UPI
Bambang Achdiyat (Physics UPI)
Rizkiyana Putra M. (Physics UPI)
Anton Timur J. (Astronomi ITB)
Ridwan Firdaus (Geografi UN Jakarta)
Aiko Fukushima (Japan)
Joy Chen (China)

1.www.banjarcyberschool.co.cc
2.www.banjarastrophysics.co.cc
3.www.tokobaedu.co.cc

Advisers:

Bpk. Madyani Yogi A., Ph.D.
(MIT & SITA)
Bpk. Muhammad Arifin, M.Sc., Ph.D.
(Tokyo Univ. & UPI)
Bpk. Taufik Hidayat, M.Sc., Ph.D
(Tokyo Univ. & UPI)
Bpk. Endang Jaenudin, S.Pd.
(SMAN 1 Banjar)
Bpk. Itam Kistamaji, S.Si.
(SMAN 1 Banjar)

"Ku wa raku no tane"
-Kesusahpayahan ialah benih yang menyenangkan-

"Fudewa ken Yorimo Tsuyoshi"
-Pena lebih berkuasa dari pedang-

"Yu wa yasuku okonan wa katashi"
-Menyatakan mudah, melaksanakan sukar-

“Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.” ~~ Gandhi

“I have discovered few learning disabled students in my three decades of teaching. I have, however, discovered many, many victims of teaching inabilities.” ~~ Marva Collins



Name: KOSHIBA, Masatoshi.
Date/Place of Birth: September 19, 1926/Toyohashi city, Aichi Pref., Japan.
Nationality: Japanese.
Marital status: Married to Kyoko KATO on October 5, 1959, in Tokyo.
Permanent address: 4-11-7 Shimoigusa, Suginami, Tokyo 167-0022 Japan.
Tel/Fax: 81-3-3396-6868,
e-mail: mkoshiba@icepp.s.u-tokyo.ac.jp.

Education
Mar. 1951: Graduated from University of Tokyo, physics major.
Apr. '51 to Mar. '53: Graduate School, University of Tokyo.
Sep. '53 to Jun. '55: Graduate School, University of Rochester, Rochester, N.Y.
Received Ph.D in physics: Thesis on Ultra-High- Energy Phenomena in Cosmic Rays.

Introduction


Masatoshi Koshiba (小柴 昌俊 Koshiba Masatoshi, born on September 19, 1926 in Toyohashi, Aichi Prefecture) is a Japanese physicist who won the Nobel Prize in Physics in 2002.

He graduated from the University of Tokyo, School of Science in 1951 and received a Ph.D. in physics at the University of Rochester, New York, in 1955.

From July 1955 to February 1958 he was Research Associate, Department of Physics, University of Chicago; from March 1958 to October 1963, he was Associate Professor, Institute of Nuclear Study, University of Tokyo, although from November 1959 to August 1962 he was on leave from the above as Senior Research Associate with the honorary rank of Associate Professor and as the Acting Director, Laboratory of High Energy Physics and Cosmic Radiation, Department of Physics, University of Chicago.

At the University of Tokyo he became Associate Professor in March 1963 and then Professor in March 1970 in the Department of Physics, Faculty of Science, and Emeritus Professor there in 1987.

From 1987 to 1997, Koshiba taught at Tokai University. In 2002 he won the Nobel Prize in Physics "for pioneering contributions to astrophysics, in particular for the detection of cosmic neutrinos".

(He was co-winner of the Nobel Prize with Raymond Davis Jr. & Riccardo Giacconi of the U.S.)

He is now Senior Counselor of ICEPP and Emeritus Professor of University of Tokyo.

Koshiba's award-winning work centred on neutrinos, subatomic particles that had long perplexed scientists. Since the 1920s it had been suspected that the Sun shines because of nuclear fusion reactions that transform hydrogen into helium and release energy.

Later, theoretical calculations indicated that countless neutrinos must be released in these reactions and, consequently, that Earth must be exposed to a constant flood of solar neutrinos.

Because neutrinos interact weakly with matter, however, only one in a trillion is stopped on its way to Earth. Neutrinos thus developed a reputation as being undetectable.

In the 1980s Koshiba, drawing on the work done by Raymond Davis Jr, constructed an underground neutrino detector in a zinc mine in Japan. Called Kamiokande II, it was an enormous water tank surrounded by electronic detectors to sense flashes of light produced when neutrinos interacted with atomic nuclei in water molecules.

Koshiba was able to confirm Davis's results—that the Sun produces neutrinos and that fewer neutrinos were found than had been expected (a deficit that became known as the solar neutrino problem).

In 1987 Kamiokande also detected neutrinos from a supernova explosion outside the Milky Way. After building a larger, more sensitive detector named Super-Kamiokande, which became operational in 1996, Koshiba found strong evidence for what scientists had already suspected—that neutrinos, of which three types are known, change from one type into another in flight; this resolves the solar neutrino problem, since early experiments could only detect one type, not all three.

Prof. Koshiba is a member of the Board of Sponsors of The Bulletin of the Atomic Scientists.


Nilai Merah Mendapat Nobel


Selama beberapa tahun terakhir tempat kediaman Profesor Masatoshi Koshiba di Tokyo, Jepang, selalu diserbu oleh para wartawan yang ingin bersama-sama menunggu kabar dari Stockholm, Swedia, yang memberitahukan bahwa profesor kebanggaan bangsa Jepang itu telah memenangkan Nobel Fisika.

Selama beberapa tahun pula berita kemenangan yang mereka tunggu-tunggu itu tidak kunjung datang.

Hari itu, 8 Oktober 2002, sekitar 20 wartawan tetap menunggu dengan sabar di kediaman Koshiba seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan berita yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Nobel Fisika tahun 2002 dihadiahkan kepada Masatoshi Koshiba dan Raymond Davis, Jr. (atas penemuannya di bidang astrofisika berkaitan dengan pendeteksian neutrino kosmis), dan Riccardo Giacconi (juga di bidang astrofisika, berkaitan dengan penemuan sumber-sumber sinar-X kosmis).

Masatoshi Koshiba lahir di kota Toyohashi, Jepang, pada tanggal 19 September 1926. Ia mengenyam pendidikannya di sebuah sekolah menengah atas di Yokosuka, yang juga merupakan tempat Perdana Menteri Junichiro Koizumi bersekolah.

Koshiba remaja bercita-cita untuk bergabung dengan sekolah militer (mengikuti jejak ayahnya), atau menjadi seorang musisi (ia senang mendengarkan musik klasik dan membaca novel-novel bersejarah).

Tetapi satu bulan sebelum ia mengikuti ujian masuk sekolah militer Koshiba terserang penyakit polio yang memaksanya untuk banyak berbaring dan beristirahat. Masa-masa pemulihannya dilalui dengan membaca buku tentang ide-ide besar fisikawan terkenal, Albert Einstein, yang diberikan oleh gurunya.

Tetapi keputusannya untuk mendalami fisika justru dipicu oleh kata-kata guru lain yang tidak sengaja didengarnya.



"Menurut guru itu, Koshiba tidak mungkin bisa mempelajari dan memahami fisika karena nilai-nilainya di mata pelajaran eksakta itu sangat buruk."


Komentar inilah yang membuat Koshiba memilih jurusan fisika di Tokyo University.

Saat pertama kali ia mendaftar di Tokyo University, Koshiba mendapatkan penolakan yang membuatnya mencoba kembali untuk kedua kalinya. Usahanya yang pantang menyerah itu pun membuahkan hasil.

Koshiba mulai mempelajari fisika di Tokyo University sambil melakukan pekerjaan sampingan untuk membantu membiayai kehidupan keluarganya.

Kesibukannya mencari nafkah itu hampir saja menggagalkan usahanya dalam menuntut ilmu di perguruan tinggi. Saat itu ia tidak memiliki banyak waktu untuk hadir di setiap kuliah, bahkan dalam satu minggu ia hanya mempunyai waktu untuk mengikuti satu kuliah saja.

Dengan kondisi seperti itu tidak ada yang menyangka bahwa Koshiba akan berhasil lulus (1951). Berbeda dengan riwayat para pemenang Nobel lainnya, yang biasanya mencatatkan prestasi akademis yang menakjubkan, Koshiba justru lulus dengan nilai terendah. Namun hal ini tidak membuatnya putus asa dalam mencoba mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Koshiba kemudian mendaftarkan diri ke University of Rochester, Amerika Serikat, dengan berbekal surat rekomendasi dari dosennya di Tokyo University yang secara jujur menyatakan:

"His results are not good, but he’s not that stupid."

Ia diterima di University of Rochester dan mendapatkan gelar Ph.D. di sana pada tahun 1955. Pada tahun 1958 Koshiba kembali ke Tokyo University untuk bekerja di sana sampai 31 Maret 1987, sebelum pindah ke Tokai University sampai ia pensiun di tahun 1997.

Koshiba yang sewaktu lulus dari Tokyo University mendapatkan nilai terendah akhirnya menjadi profesor fisika di tempat yang sama.

Satu bulan sebelum ia mengakhiri masa kerjanya di Tokyo University (23 Februari 1987), Koshiba berhasil membuktikan keberadaan partikel elementer yang disebut neutrino, yang jejaknya dideteksi menggunakan detektor Kamiokande (untuk menghasilkan ledakan supernova) yang dirancang dan dibuatnya sendiri.

Penemuannya ini melahirkan bidang penelitian baru yang sangat penting dalam astrofisika, yaitu astronomi neutrino.

Selain hadiah Nobel Fisika, penemuannya ini juga telah menganugerahinya berbagai penghargaan lain di dunia internasional, seperti Der grosse Verdienstkreutz dari presiden Jerman Barat, Order of Cultural Merit dari Kaisar Jepang, dan Wolf Prize dari president Israel.

Koshiba juga terdaftar sebagai anggota American Physical Society, Physical Society of Japan, dan Japanese Astronomical Society.

"Kannan kanji o tama ni su"
-penderitaan atau kesukaran-kesukaran membuat kamu menjadi permata-

"Ni kara deta sabi"
-Siapa yang berbuat, ia sendiri yang akan menanggung akibatnya-

Hubungan Organisasi:

1. Fisika Bumi Siliwangi Research Center
2. Tim Olimpiade Kota Banjar
3. Banjar Astro Physics Association
4. Pusat Persaudaraan Tim Olimpiade Fisika Astronomi Wilayah Sunda
5. TOFI Yohanes Surya
6. Ririungan NIHONGO Kota Banjar

References:

1. Yohanes Surya Institute
2. Nobel Prize Org.
3. Wikipedia
4. Japanese HAIKU

Ucapan Terimakasih:

1. Greatest Our Parents & Teachers
2. Greatest Our Friends Forever
SENEBIAN, RANGER & All

"Salam Pendidikan untuk Peradaban"