Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 November 2009

Koshiba, Nilai Merah Mendapat Nobel

Contributors:

Herni Yuniarti S. (Physics UPI)
Angga Fuja Widiana (Physics UPI
Bambang Achdiyat (Physics UPI)
Rizkiyana Putra M. (Physics UPI)
Anton Timur J. (Astronomi ITB)
Ridwan Firdaus (Geografi UN Jakarta)
Aiko Fukushima (Japan)
Joy Chen (China)

1.www.banjarcyberschool.co.cc
2.www.banjarastrophysics.co.cc
3.www.tokobaedu.co.cc

Advisers:

Bpk. Madyani Yogi A., Ph.D.
(MIT & SITA)
Bpk. Muhammad Arifin, M.Sc., Ph.D.
(Tokyo Univ. & UPI)
Bpk. Taufik Hidayat, M.Sc., Ph.D
(Tokyo Univ. & UPI)
Bpk. Endang Jaenudin, S.Pd.
(SMAN 1 Banjar)
Bpk. Itam Kistamaji, S.Si.
(SMAN 1 Banjar)

"Ku wa raku no tane"
-Kesusahpayahan ialah benih yang menyenangkan-

"Fudewa ken Yorimo Tsuyoshi"
-Pena lebih berkuasa dari pedang-

"Yu wa yasuku okonan wa katashi"
-Menyatakan mudah, melaksanakan sukar-

“Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.” ~~ Gandhi

“I have discovered few learning disabled students in my three decades of teaching. I have, however, discovered many, many victims of teaching inabilities.” ~~ Marva Collins



Name: KOSHIBA, Masatoshi.
Date/Place of Birth: September 19, 1926/Toyohashi city, Aichi Pref., Japan.
Nationality: Japanese.
Marital status: Married to Kyoko KATO on October 5, 1959, in Tokyo.
Permanent address: 4-11-7 Shimoigusa, Suginami, Tokyo 167-0022 Japan.
Tel/Fax: 81-3-3396-6868,
e-mail: mkoshiba@icepp.s.u-tokyo.ac.jp.

Education
Mar. 1951: Graduated from University of Tokyo, physics major.
Apr. '51 to Mar. '53: Graduate School, University of Tokyo.
Sep. '53 to Jun. '55: Graduate School, University of Rochester, Rochester, N.Y.
Received Ph.D in physics: Thesis on Ultra-High- Energy Phenomena in Cosmic Rays.

Introduction


Masatoshi Koshiba (小柴 昌俊 Koshiba Masatoshi, born on September 19, 1926 in Toyohashi, Aichi Prefecture) is a Japanese physicist who won the Nobel Prize in Physics in 2002.

He graduated from the University of Tokyo, School of Science in 1951 and received a Ph.D. in physics at the University of Rochester, New York, in 1955.

From July 1955 to February 1958 he was Research Associate, Department of Physics, University of Chicago; from March 1958 to October 1963, he was Associate Professor, Institute of Nuclear Study, University of Tokyo, although from November 1959 to August 1962 he was on leave from the above as Senior Research Associate with the honorary rank of Associate Professor and as the Acting Director, Laboratory of High Energy Physics and Cosmic Radiation, Department of Physics, University of Chicago.

At the University of Tokyo he became Associate Professor in March 1963 and then Professor in March 1970 in the Department of Physics, Faculty of Science, and Emeritus Professor there in 1987.

From 1987 to 1997, Koshiba taught at Tokai University. In 2002 he won the Nobel Prize in Physics "for pioneering contributions to astrophysics, in particular for the detection of cosmic neutrinos".

(He was co-winner of the Nobel Prize with Raymond Davis Jr. & Riccardo Giacconi of the U.S.)

He is now Senior Counselor of ICEPP and Emeritus Professor of University of Tokyo.

Koshiba's award-winning work centred on neutrinos, subatomic particles that had long perplexed scientists. Since the 1920s it had been suspected that the Sun shines because of nuclear fusion reactions that transform hydrogen into helium and release energy.

Later, theoretical calculations indicated that countless neutrinos must be released in these reactions and, consequently, that Earth must be exposed to a constant flood of solar neutrinos.

Because neutrinos interact weakly with matter, however, only one in a trillion is stopped on its way to Earth. Neutrinos thus developed a reputation as being undetectable.

In the 1980s Koshiba, drawing on the work done by Raymond Davis Jr, constructed an underground neutrino detector in a zinc mine in Japan. Called Kamiokande II, it was an enormous water tank surrounded by electronic detectors to sense flashes of light produced when neutrinos interacted with atomic nuclei in water molecules.

Koshiba was able to confirm Davis's results—that the Sun produces neutrinos and that fewer neutrinos were found than had been expected (a deficit that became known as the solar neutrino problem).

In 1987 Kamiokande also detected neutrinos from a supernova explosion outside the Milky Way. After building a larger, more sensitive detector named Super-Kamiokande, which became operational in 1996, Koshiba found strong evidence for what scientists had already suspected—that neutrinos, of which three types are known, change from one type into another in flight; this resolves the solar neutrino problem, since early experiments could only detect one type, not all three.

Prof. Koshiba is a member of the Board of Sponsors of The Bulletin of the Atomic Scientists.


Nilai Merah Mendapat Nobel


Selama beberapa tahun terakhir tempat kediaman Profesor Masatoshi Koshiba di Tokyo, Jepang, selalu diserbu oleh para wartawan yang ingin bersama-sama menunggu kabar dari Stockholm, Swedia, yang memberitahukan bahwa profesor kebanggaan bangsa Jepang itu telah memenangkan Nobel Fisika.

Selama beberapa tahun pula berita kemenangan yang mereka tunggu-tunggu itu tidak kunjung datang.

Hari itu, 8 Oktober 2002, sekitar 20 wartawan tetap menunggu dengan sabar di kediaman Koshiba seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan berita yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Nobel Fisika tahun 2002 dihadiahkan kepada Masatoshi Koshiba dan Raymond Davis, Jr. (atas penemuannya di bidang astrofisika berkaitan dengan pendeteksian neutrino kosmis), dan Riccardo Giacconi (juga di bidang astrofisika, berkaitan dengan penemuan sumber-sumber sinar-X kosmis).

Masatoshi Koshiba lahir di kota Toyohashi, Jepang, pada tanggal 19 September 1926. Ia mengenyam pendidikannya di sebuah sekolah menengah atas di Yokosuka, yang juga merupakan tempat Perdana Menteri Junichiro Koizumi bersekolah.

Koshiba remaja bercita-cita untuk bergabung dengan sekolah militer (mengikuti jejak ayahnya), atau menjadi seorang musisi (ia senang mendengarkan musik klasik dan membaca novel-novel bersejarah).

Tetapi satu bulan sebelum ia mengikuti ujian masuk sekolah militer Koshiba terserang penyakit polio yang memaksanya untuk banyak berbaring dan beristirahat. Masa-masa pemulihannya dilalui dengan membaca buku tentang ide-ide besar fisikawan terkenal, Albert Einstein, yang diberikan oleh gurunya.

Tetapi keputusannya untuk mendalami fisika justru dipicu oleh kata-kata guru lain yang tidak sengaja didengarnya.



"Menurut guru itu, Koshiba tidak mungkin bisa mempelajari dan memahami fisika karena nilai-nilainya di mata pelajaran eksakta itu sangat buruk."


Komentar inilah yang membuat Koshiba memilih jurusan fisika di Tokyo University.

Saat pertama kali ia mendaftar di Tokyo University, Koshiba mendapatkan penolakan yang membuatnya mencoba kembali untuk kedua kalinya. Usahanya yang pantang menyerah itu pun membuahkan hasil.

Koshiba mulai mempelajari fisika di Tokyo University sambil melakukan pekerjaan sampingan untuk membantu membiayai kehidupan keluarganya.

Kesibukannya mencari nafkah itu hampir saja menggagalkan usahanya dalam menuntut ilmu di perguruan tinggi. Saat itu ia tidak memiliki banyak waktu untuk hadir di setiap kuliah, bahkan dalam satu minggu ia hanya mempunyai waktu untuk mengikuti satu kuliah saja.

Dengan kondisi seperti itu tidak ada yang menyangka bahwa Koshiba akan berhasil lulus (1951). Berbeda dengan riwayat para pemenang Nobel lainnya, yang biasanya mencatatkan prestasi akademis yang menakjubkan, Koshiba justru lulus dengan nilai terendah. Namun hal ini tidak membuatnya putus asa dalam mencoba mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Koshiba kemudian mendaftarkan diri ke University of Rochester, Amerika Serikat, dengan berbekal surat rekomendasi dari dosennya di Tokyo University yang secara jujur menyatakan:

"His results are not good, but he’s not that stupid."

Ia diterima di University of Rochester dan mendapatkan gelar Ph.D. di sana pada tahun 1955. Pada tahun 1958 Koshiba kembali ke Tokyo University untuk bekerja di sana sampai 31 Maret 1987, sebelum pindah ke Tokai University sampai ia pensiun di tahun 1997.

Koshiba yang sewaktu lulus dari Tokyo University mendapatkan nilai terendah akhirnya menjadi profesor fisika di tempat yang sama.

Satu bulan sebelum ia mengakhiri masa kerjanya di Tokyo University (23 Februari 1987), Koshiba berhasil membuktikan keberadaan partikel elementer yang disebut neutrino, yang jejaknya dideteksi menggunakan detektor Kamiokande (untuk menghasilkan ledakan supernova) yang dirancang dan dibuatnya sendiri.

Penemuannya ini melahirkan bidang penelitian baru yang sangat penting dalam astrofisika, yaitu astronomi neutrino.

Selain hadiah Nobel Fisika, penemuannya ini juga telah menganugerahinya berbagai penghargaan lain di dunia internasional, seperti Der grosse Verdienstkreutz dari presiden Jerman Barat, Order of Cultural Merit dari Kaisar Jepang, dan Wolf Prize dari president Israel.

Koshiba juga terdaftar sebagai anggota American Physical Society, Physical Society of Japan, dan Japanese Astronomical Society.

"Kannan kanji o tama ni su"
-penderitaan atau kesukaran-kesukaran membuat kamu menjadi permata-

"Ni kara deta sabi"
-Siapa yang berbuat, ia sendiri yang akan menanggung akibatnya-

Hubungan Organisasi:

1. Fisika Bumi Siliwangi Research Center
2. Tim Olimpiade Kota Banjar
3. Banjar Astro Physics Association
4. Pusat Persaudaraan Tim Olimpiade Fisika Astronomi Wilayah Sunda
5. TOFI Yohanes Surya
6. Ririungan NIHONGO Kota Banjar

References:

1. Yohanes Surya Institute
2. Nobel Prize Org.
3. Wikipedia
4. Japanese HAIKU

Ucapan Terimakasih:

1. Greatest Our Parents & Teachers
2. Greatest Our Friends Forever
SENEBIAN, RANGER & All

"Salam Pendidikan untuk Peradaban"

Jumat, 18 September 2009

Pensiunnya Prof. Stephen William Hawking

Contributors:

1. Anton Timur J. (ITB)
2. Widia Prima (STT Garut)
3. Kurniawan (STIKES BP Banjar)
4. Ismail Muhammad S. (UNSOED)
5. Marwanto (UM Jogjakarta)
6. Ridwan Firdaus (UN Jakarta)
7. Uman Miftah S. (UII Jogjakarta)
8. Erwin Prilesmana (STIT BP Banjar)

From Overseas:

1. David Froster (Cambridge University)
2. Wael Alghamdi (MIT Dept. Mathematics)

"Saya orang yang paling beruntung di dunia".
~Stephen W. Hawking~

"Intelligence is the ability to adapt to change"
~Stephen Hawking~

"To confine our attention to terrestrial matters would be to limit the human spirit"
~Stephen Hawking~

"My goal is simple. It is a complete understanding of the universe, why it is as it is and why it exists at all"
~Stephen Hawking~

Stephen William Hawking, CH, CBE, FRS (lahir di Oxford, Britania Raya, 8 Januari 1942; umur 67 tahun) adalah seorang ahli fisika teoritis. Ia adalah seorang profesor Lucasian dalam bidang Matematika di Universitas Cambridge dan anggota dari Gonville and Caius College, Cambridge.

Ia dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama sekali karena teori-teorinya mengenai teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan tulisan-tulisan popnya di mana ia membicarakan teori-teori dan kosmologinya secara umum.

Tulisan-tulisannya ini termasuk novel ilmiah ringan A Brief History of Time, yang tercantum dalam daftar bestseller di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut, suatu periode terpanjang dalam sejarah.

Meskipun mengalami cacat jasmani yang luar biasa dan mengalami tetraplegia (kelumpuhan) karena motor neuron disease, karir ilmiahnya terus berlanjut selama lebih dari empat puluh tahun.

Buku-buku dan penampilan publiknya menjadikan ia sebagai seorang selebritis akademik dan teoretikus fisika yang termasyhur di dunia.
Sekarang ini, Mr. Hawking mengalami penyakit ALS (sklerosis lateral amiotrofik) sebuah sindrom yang menyerang sistem motorik tubuh, seperti tak mampu berjalan.

Namun walaupun begitu di tetap bersemangat seperti ia katakan:

"Saya orang yang paling beruntung di dunia".

Penyakit ini menyerangnya pada umur 28 tahun.

Hawking Tinggalkan Kursi Newton

Astrofisikawan Inggris, Stephen Hawking, akan pensiun tahun depan sebagai Profesor Lukasian Matematika di Universitas Cambridge, posisi yang dulu pernah dipegang Isaac Newton.

Sudah merupakan kebijakan lembaga pendidikan itu bahwa pemegang jabatan tersebut harus pensiun pada usia 67 tahun, kata seorang juru bicara universitas itu seperti dilaporkan AFP yang dikutip Antara.

Hawking, yang telah memegang jabatan ini sejak 1979 dan bekerja pada Cambridge sejak 1962, genap berusia 67 tahun pada Januari lalu.

Ilmuwan itu, yang bukunya antara lain A Brief History of Time dan berusaha memopulerkan studi tentang fisika bintang, tetap bekerja di universitas itu, sedangkan profesor baru akan diangkat.

Hawking menderita penyakit syaraf motor yang disebut amyotrophic lateral sclerosis (ALS), sehingga dirinya hampir lumpuh dan hanya dapat berkomunikasi lewat bantuan komputer.

Menurut beberapa media online, yang menempati posisi Lucasian Chair of Mathematics disebut Lucasian Professor yang harus menyandang profesor matematika di Universitas Cambridge.

Jabatan tersebut dibentuk pada 1663 oleh Henry Lucas, anggota parlemen Universitas Cambridge pada 1939-1640.

Posisi tersebut akhirnya dikukuhkan oleh Raja Charles II pada 18 Januari 1664.
Lucas, sesuai dengan harapannya, menghibahkan perpustakaan yang memiliki koleksi sekitar 4.000 volume terbitan kepada Universitas itu.

Nama paling terkenal yang memegang jabatan itu adalah ilmuwan nomor wahid dunia, Isaac Newton.
Raja Charles II memberikan 'tugas suci' kepada Newton untuk menjalankan misi keilmuannya.

Research fields

Hawking's principal fields of research are theoretical cosmology and quantum gravity.

In the late 1960s, he and his Cambridge friend and colleague, Roger Penrose, applied a new, complex mathematical model they had created from Albert Einstein's general theory of relativity.

This led, in 1970, to Hawking proving the first of many singularity theorems; such theorems provide a set of sufficient conditions for the existence of a singularity in space-time.

This work showed that, far from being mathematical curiosities which appear only in special cases, singularities are a fairly generic feature of general relativity.

He supplied a mathematical proof, along with Brandon Carter, Werner Israel and D. Robinson, of John Wheeler's "No-Hair Theorem" – namely, that any black hole is fully described by the three properties of mass, angular momentum, and electric charge.
Hawking also suggested that, upon analysis of gamma ray emissions, after the Big Bang, primordial or mini black holes were formed.

With Bardeen and Carter, he proposed the four laws of black hole mechanics, drawing an analogy with thermodynamics. In 1974, he calculated that black holes should thermally create and emit subatomic particles, known today as Hawking radiation, until they exhaust their energy and evaporate.

In collaboration with Jim Hartle, Hawking developed a model in which the Universe had no boundary in space-time, replacing the initial singularity of the classical Big Bang models with a region akin to the North pole: One cannot travel North of the North pole, as there is no boundary there.

While originally the no-boundary proposal predicted a closed Universe, discussions with Neil Turok led to the realisation that the no-boundary proposal is also consistent with a Universe which is not closed.

Hawking's many other scientific investigations have included the study of: quantum cosmology, cosmic inflation, helium production in anisotropic Big Bang universes, large N cosmology, the density matrix of the universe, topology and structure of the universe, baby universes, Yang-Mills instantons and the S matrix, anti de Sitter space, quantum entanglement and entropy, the nature of space and time, including the arrow of time, spacetime foam, string theory, supergravity, Euclidean quantum gravity, the gravitational Hamiltonian, Brans-Dicke and Hoyle-Narlikar theories of gravitation, gravitational radiation, and wormholes.

At a George Washington University lecturer in honors of NASA's 50th anniversary, Prof. Hawking theorized on the existence of extraterrestrial life: "Primitive life is very common and intelligent life is fairly rare.

The Lucasian Professorship:

The Lucasian Professorship was originally granted to the University of Cambridge by Henry Lucas, in December 1663. Henry Lucas, Member of Parliament for the university, had left instructions in his will for the purchase of land to support the professorship.

Below is a list of the past Lucasian Professors.

Name Born-died Period with Chair Major area of research

1. Isaac Barrow 1630-1677 1664-1669 Classics & Mathematics

2. Sir Isaac Newton 1642-1727 1669-1702 Mathematics & Physics

3. William Whiston 1667-1752 1702-1710 Mathematics

4. Nicolas Saunderson 1682-1739 1711-1739 Mathematics

5. John Colson 1680-1760 1739-1760 Mathematics

6. Edward Waring 1736-1798 1760-1798 Mathematics

7. Isaac Milner 1750-1820 1798-1820 Mathematics & Chemistry

8. Robert Woodhouse 1773-1827 1820-1822 Mathematics

9. Thomas Turton 1780-1864 1822-1826 Mathematics

10. Sir George Airy 1801-1892 1826-1828 Astronomy

11. Charles Babbage 1792-1871 1828-1839 Mathematics & Computing

12. Joshua King 1798-1857 1839-1849 Mathematics

13. Sir George Stokes 1819-1903 1849-1903 Physics & Fluid Mechanics

14. Sir Joseph Larmor 1857-1942 1903-1932 Physics

15. Paul A.M. Dirac 1902-1984 1932-1969 Physics

16. Sir M. James Lighthill 1924-1998 1969-1980 Fluid Mechanics

17. Stephen W. Hawking 1942- 1980-2009 Theoretical Physics.

Senin, 18 Mei 2009

Cerita Di Balik Nobel Fisika 2008

Di Balik Nobel Fisika 2008
(TRIO FISIKAWAN JEPANG YANG ULET)

Contributors:

1. Eka Cahya Prima
2. Cecepullah
3. Rizkiyana Putra M.
4. Iqbal Robiyana
5. Arip Nurahman
6. Angga Fuja W.
7. Bambang Achdiyat
8. Deden Anugrah

Sumber: Bpk. Agus Purwanto D.Sc.

(Doktor Fisika Teoritik ITB, Universitas Hiroshima, Kepala Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam ITS Serta Penulis buku Ayat-ayat Semesta)

Passion for symmetry

The fact that our world does not behave perfectly symmetrically is due to deviations from symmetry at the microscopic level.

As early as 1960, Yoichiro Nambu formulated his mathematical description of spontaneous broken symmetry in elementary particle physics. Spontaneous broken symmetry conceals nature's order under an apparently jumbled surface.

It has proved to be extremely useful, and Nambu's theories permeate the Standard Model of elementary particle physics. The Model unifies the smallest building blocks of all matter and three of nature's four forces in one single theory.

The spontaneous broken symmetries that Nambu studied, differ from the broken symmetries described by Makoto Kobayashi and Toshihide Maskawa.

These spontaneous occurrences seem to have existed in nature since the very beginning of the universe and came as a complete surprise when they first appeared in particle experiments in 1964.

It is only in recent years that scientists have come to fully confirm the explanations that Kobayashi and Maskawa made in 1972.

It is for this work that they are now awarded the Nobel Prize in Physics. They explained broken symmetry within the framework of the Standard Model, but required that the Model be extended to three families of quarks.

These predicted, hypothetical new quarks have recently appeared in physics experiments. As late as 2001, the two particle detectors BaBar at Stanford, USA and Belle at Tsukuba, Japan, both detected broken symmetries independently of each other. The results were exactly as Kobayashi and Maskawa had predicted almost three decades earlier.

A hitherto unexplained broken symmetry of the same kind lies behind the very origin of the cosmos in the Big Bang some 14 billion years ago. If equal amounts of matter and antimatter were created, they ought to have annihilated each other.

But this did not happen, there was a tiny deviation of one extra particle of matter for every 10 billion antimatter particles.

It is this broken symmetry that seems to have caused our cosmos to survive. The question of how this exactly happened still remains unanswered. Perhaps the new particle accelerator LHC at CERN in Geneva will unravel some of the mysteries that continue to puzzle us.

Sebuah Akhir yang Manis dari Penantian Panjang

Akhir yang manis dari penantian panjang, ketika mengetahui nama-nama penerima nobel fisika 2008. Betapa tidak, tahun 1998 sebelum meninggalkan almamaternya L.T. Handoko sejawat Bapak Agus Purwanto di Universitas Hiroshima bercerita bahwa komunitas fisika teori Jepang berharap Kobayashi dan Maskawa mendapat nobel fisika.

Sebenarnya, tidak ada ahli fisika di dunia yang bekerja dengan misi khusus mendapat nobel, tidak terkecuali Yoichiro Nambu, Makoto Kobayashi dan Toshihide Maskawa.

Mereka bekerja karena mencintai pekerjaannya, mencintai ilmu.

Tetapi dalam perkembangannya ada alasan yang membuat komunitas fisika teori Jepang berharap nobel bagi sejawat senegara mereka.

Nobel fisika 2008 berbeda dari nobel fisika 1979 yang juga diberikan kepada tiga ahli fisika teori yaitu Abdus Salam, Sheldon Glashow dan Steven Weinberg.

Ketiga fisikawan ini berasal dari negara berbeda, Salam dari Pakistan dan tinggal di Itali sedangkan dua lainnya dari Amerika tetapi mendapatkan nobel fisika untuk satu teori yang sama yaitu teori unifikasi gaya elektro lemah. Teori ini sekarang sering disebut sebagai teori Glashow-Salam-Weinberg (Grand Unification Theory/Teori Keterpaduan Akbar).

Sebaliknya Nambu, Kobayashi dan Maskawa berasal dari satu negara tetapi mendapatkan nobel untuk dua teori berbeda.

Nambu yang kelahiran Tokyo 1921 dan mendapatkan gelar dotornya di Universitas Tokyo tahun 1952 serta menjadi profesor di Universitas Chicago sejak 1958 dianugerahi nobel karena gagasan perusakan simetri spontannya (Spontaneous Symmetry Breaking, SSB) dalam model sigma.

Gagasan ini dimuat dalam prosiding konferensi internasional kesepuluh fisika energi tinggi (High Energy Physics) di Jenewa tahun 1960. Satu tahun kemudian Jeffrey Goldstone dari Amerika menulis generalisasi SSB untuk fermion di jurnal Nuovo Cimento.

Hasil sampingnya berupa boson tak bermassa. Di buku-buku teks SSB kadang diidentifikasi dengan dua nama Nambu-Goldstone tetapi lebih sering hanya satu nama yaitu Goldstone dengan sebutan teorema Goldstone.

Gagasan Goldstone disempurnakan Peter Higgs tahun 1964 dengan mekanisme pembangkitan massa Higgs yang terkenal dalam fisika partikel modern.

Mekanisme terakhir ini memberi bonus partikel Higgs yang menjadi perburuan di eksperimen terbesar dalam sejarah umat manusia Large Hadron Collider (LHC) di CERN Jenewa. Dengan demikian, jika SSB mendapatkan nobel maka yang seharusnya menerima adalah trio Nambu, Goldstone dan Higgs.

Kobayashi dan Maskawa (KM) mendapatkan penghargaan karena ide mereka yang dipublikasi di jurnal Progress of Theoretical Physics tahun 1973 dengan judul CP violation in the renormalizable theory of weak interaction.

KM mengintrodusir matriks bauran dimensi tiga yang memuat dua hal baru. Pertama, kuark generasi ketiga bottom dan top, kedua, fasa CP (charge conjugation dan parity). Fasa dan simpangan CP merupakan salah satu syarat terjadinya alam semesta saat ini yang asimetri dari kondisi awal simetri.

Konfirmasi kuark top di CDF Fermilab tahun 1998 membangkitkan harapan nobel bagi KM. Konfirmasi simpangan CP melalui B-factory di akselerator linier Stanford (SLAC-B) dan Belle di pusat riset fisika energi tinggi (KEK) Tsukuba tahun 2001 meneguhkan harapan ini.

Tahun 1963, Nicola Cabibbo dari Itali menulis matriks bauran dua dimensi di Physical Review Letter (PRL). Dengan demikian, matriks KM dapat dipandang sebagai perluasan dari matriks Cabibbo sehingga sampai sekarang matriks ini disebut matriks CKM (Cabibbo-Kobayashi-Maskawa). Karenanya, nobel mestinya tidak hanya diberikan kepada KM melainkan juga Cabibbo.

Nobel fisika tahun ini juga menyisakan sisi lain yang menarik bagi orang Indonesia. Setelah peraih nobel fisika 2008 diumumkan, ahli fisika teori L.T. Handoko mendapat email dengan bunyi, “Thank you for the works contributed to the establishing the theory” (Suatu saat nanti Ilmuwan Indonesialah yang meraihnya) dari para koleganya di Jepang.

Bpk. Handoko memang mempunyai hubungan personal yang kuat khususnya dengan Kobayashi sebagai host-profesor ketika berada di KEK Tsukuba antara tahun 1996-1997.
Ungkapan terimakasih tersebut terkait dengan riset Handoko dan koleganya dari Jepang, Jerman, Korsel dan Kanada pada kurun 1995-2002 yang mengkaji perusakan simetri global pada materi nuklir meson B.

Kuark b berada di alam dalam bentuk materi nuklir meson B. Karenanya eksperimen untuk membuktikan teori ini selalu melibatkan meson B dan peluruhannya.

Kalkulasi teori terkait dengan aneka mode peluruhan dan hasil akhirnya ini banyak dilakukan oleh Handoko pada era tersebut.

Dilain pihak, ada beberapa ilmuwan Indonesia yang turut berperan pada proses pembuktian eksperimental yang menjadi kunci penentu anugerah nobel untuk KM. Pada eksperimen pencarian kuark top misalnya, salah seorang anggota kolaborasi D-zero (D0) adalah Van de Brink mahasiswa Indonesia alumni jurusan fisika UI.

Eksperimen yang lebih penting dan merupakan kunci utama konfirmasi kebenaran teori KM adalah B-factory. Selama ini ada dua fasilitas eksperimen utama yang bersaing ketat yaitu eksperimen BaBar di SLAC Stanford dan Belle di KEK Tsukuba. Di dalam kolaborasi BaBar terdapat dua ilmuwan Indonesia, Romulus Godang dan Rahmat.

Romulus yang asisten profesor di Universitas South Alabama dan alumni jurusan fisika USU bergabung sejak awal dimulainya kolaborasi BaBar sampai sekarang. Rahmat yang menyelesaikan program doktoralnya di University of Oregon melanjutkan program post-doctoral di Universitas Mississippi juga masih aktif di eksperimen BaBar.

Demikian pula Haryo Sumowidagdo, alumni jurusan fisika UI, sampai saat ini masih bergabung di eksperimen D0.
Maskawa barangkali sosok yang paling unik dari trio peraih nobel fisika tahun ini. Bpk. Agus Purwanto pernah dua kali bertemu Profesor Maskawa, tahun 1999 di universitas Hiroshima dan tahun 2001 di Yukawa Institue for Theoretical Physics (YITP) universitas Kyoto institusi tempat Maskawa.

Ada hal yang tidak dapat Bpk. Agus Purwanto lupakan dari kedua pertemuan tersebut.
Ketika di universitas Hiroshima seorang teman membisiki penulis bahwa Maskawa tidak dapat berbicara dalam bahasa Inggris sehingga bila mau bicara dengannya harus dengan bahasa Jepang.

Hal yang sama juga terjadi ketika di YITP, host-profesor penulis di sana berbisik sama. “Shinjirarenai” (tidak dapat dipercaya), demikian reaksi dalam hati ketika dibisiki untuk pertama kalinya.

Dari kisah di depan, ada dua pelajaran yang dapat diambil oleh fisikawan dan ilmuwan Indonesia umumnya. Pertama, gagasan Nambu maupun KM yang akhirnya mendapatkan nobel dimuat di prosiding dan jurnal dengan impact factor atau peringkat tidak tinggi.

Reputasi ilmuwan secara umum ditentukan oleh jumlah publikasi dan peringkat jurnalnya. Hitoshi Murayama dari University of California Berkeley dan Ernest Ma dari University of California Riverside, misalnya, selalu berusaha menulis tema terdepan dan mempublikasikannya di PRL yang ber-impact factor paling tinggi di antara jurnal fisika.

Semangat seperti Murayama maupun Ma sangat positif tetapi sejarah membuktikan idealisme semacam ini tidaklah perlu. Beberapa senior kita tidak mau publikasi bila tidak di jurnal papan atas dan akhirnya memang tidak mempunyai publikasi atau karya satu pun sampai masa pensiunnya.

Semangat umum ilmuwan Jepang patut ditiru, publikasikan hasil riset di jurnal internasional apapun. Makna jurnal internasional disini adalah untuk menjamin visibilitas karya tulis sehingga bisa diketahui oleh komunitas global.

Selanjutnya kita tidak perlu menghakimi karya sendiri tetapi biarkan orang lain menilainya.

"Bagi kita yang terpenting adalah berkarya dan berkarya"

Kedua, kolaborasi akan menutupi kekurangan dan kelemahan individual para ilmuwan. Di Indonesia, ilmuwan khususnya fisikawan teori jumlahnya baru belasan. Mereka tidak boleh lagi bangga dengan institusi sendiri maupun almamater tetapi tanpa karya, tanpa publikasi.

Sekarang banyak universitas kita yang mengakselerasi lahirnya guru-guru besar baru untuk meningkatkan status universitas. Sayangnya, dari setiap pengukuhan dapat dilihat bahwa guru-guru besar ini umumnya tidak mempunyai publikasi internasional kecuali saat menempuh program doktoralnya di luar negeri.

Kondisi paradoks tersebut dapat diatasi melalui kolaborasi. Salah satu contoh kolaborasi adalah Indonesia Center for Theoretical dan Mathematical Physics (ICTMP) yang melibatkan beberapa ahli fisika teori dalam dan luar ITB. Upaya ini memberi hasil dengan mulai munculnya hasil-hasil riset mereka di beberapa jurnal internasional.

Jumlah ahli fisika teori Indonesia sekarang belum berubah secara signifikan dibanding tiga puluh tahun lalu. Tetapi kolaborasi telah membedakan dua generasi ini, publikasi menandai generasi yang belakangan. Juga komunitas ilmiah yang kuat sebagai motivator semangat berkarya seperti Grup Fisikawan Teoritik Indonesia (GFTI) yang menanungi pertemuan tahuan komunitas teori Indonesia, yaitu Workshop on Theoretical Physics.

Nobel bukanlah tujuan utama, yang lebih penting adalah tumbuhnya sikap dan tradisi ilmiah.

Penyelesaian berbagai masalah akan jauh lebih efektif bila berdasar pemahaman sains dan tidak sekedar mengandalkan common sense.

Di antara negara dengan jumlah penduduk terbesar seperti Cina, India, Amerika dan Indonesia hanya negeri kita yang belum menguasai ilmu pengetahuan. Padahal tanpa ilmu pengetahuan teoritis maupun praktis kita tidak akan mampu mengelola sumber daya alam yang melimpah yang pada gilirannya kita menjadi bangsa yang bergantung pada bangsa lain.