Tampilkan postingan dengan label Guru dan Dosen Profesional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru dan Dosen Profesional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Agustus 2010

The Kaizen Power dalam Pendidikan Jepang

Disusun Oleh: Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University.


1. Prof. Hiromatsu Takeshi,
(Professor of Economy, Tokyo University, http://www.e.u-tokyo.ac.jp/index.html)
2. Masaaki Imai
(A consultant in the field of quality management, http://www.kaizen.com/)
3. Akhmad Sudrajat
(http://akhmadsudrajat.wordpress.com/)

“Jika anda hari ini sama dengan hari kemarin maka anda merugi, dan jika hari ini anda lebih jelek dari hari kemarin maka anda celaka, dan jika hari ini anda lebih baik dari hari kemarin maka anda beruntung.”
~Hadits Nabi~

Abstract

Kaizen (改善, Japanese for "improvement") is a Japanese philosophy that focuses on continuous improvement throughout all aspects of life. When applied to the workplace, Kaizen activities continually improve all functions of a business, from manufacturing to management and from the CEO to the assembly line workers. By improving standardized activities and processes, Kaizen aims to eliminate waste (see Lean manufacturing). Kaizen was first implemented in several Japanese businesses during the country's recovery after World War II and has since spread to businesses throughout the world.

~ Intro:
Manajemen Jepang yang dikenal sebagai Kaizen dikenal terutama dalam proses produksi. Continuous improvement!/"Perbaikan Terus Menerus". Penyempurnaan berkesinambungan. Gemba Kaizen adalah perbaikan yang terus menerus.

Bagi kita, manusia boleh jadi karena bukan mesin produksi maka menjalani tujuh kebiasaan baik Mr. Stephen Covey yang tahun 2004 ditambah satu lagi menjadi 8 memberikan pencerahan. Meskipun sebenarnya bagi muslim, persoalannya bukan tidak mengenal tujuh kebiasaan itu. Informasi keteladanan Nabi, manajemen Qolbu jauh lebih canggih.

Namun memanajemi hati memang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, berkesinambungan. Setiap saat tanpa henti. Begitupun dalam dunia pendidikannya dikenal adanya istilah "kenkyuu jugyo"=Lesson Study, dimana mutu dan kualitas pengajar terus ditingkatan.

Translation:
The original kanji characters for this word are: 改 善
In Japanese this is pronounced "kaizen".

*("kai") means "change" or "the action to correct".
*("zen") means "good".
In Korean this is pronounced "ge sun"
*("ge sun") means "improvement" or "change for the better"
In Chinese this is pronounced "gai shan":
*("gǎi shàn") means "change for the better" or "improve".
*("gǎi") means "change" or "the action to correct".
*("shàn") means "good" or "benefit". "Benefit" is more related to the Taoist or Buddhist philosophy, which gives the definition as the action that 'benefits' the society but not one particular individual (i.e., multilateral improvement). In other words, one cannot benefit at another's expense.

The quality of benefit that is involved here should be sustained forever, in other words the "shan" is an act that truly benefits others.

~ Contents:
Tahapan-Tahapan Lesson Study:
Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam Lesson Study ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study, yaitu : (1) Perencanaan (Plan); (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (See). Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:

1. Form a Team: membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study.
2. Develop Student Learning Goals: anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari Lesson Study.
3. Plan the Research Lesson: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons.
4. Gather Evidence of Student Learning: salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa.
5. Analyze Evidence of Learning: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa
6. Repeat the Process: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada.

Untuk lebih jelasnya, dengan merujuk pada pemikiran Slamet Mulyana (2007) dan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam penyelengggaraan Lesson Study

1. Tahapan Perencanaan (Plan)
Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.

2. Tahapan Pelaksanaan (Do)
Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas Lesson Study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer)

~ Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:
1. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.
2. Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study.
3. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.
4. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.
5. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru.
6. Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.
7. Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP.

3. Tahapan Refleksi (Check)
Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.

Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.

4. Tahapan Tindak Lanjut (Act)
Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial.

Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik.

Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta Lesson Study, tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam Lesson Study, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.

~ Kesimpulan
Kita harus terus melakukan perbaikan dalam pendidikan secara terus menerus, tanpa henti. Agar kualitas dan mutu dunia pendidikan kita semakin maju dan berkembang.
Yakin suatu saat kota kita akan terus maju.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Lesson Study merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.
2. Tujuan Lesson Study adalah : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
3. Ciri-ciri dari Lesson Study yaitu adanya: (a) tujuan bersama untuk jangka panjang; (b) materi pelajaran yang penting; (c) studi tentang siswa secara cermat; dan (d) observasi pembelajaran secara langsung.
4. Lesson study memberikan banyak manfaat bagi para guru, antara lain: (a) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (b) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (c) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study
5. Penyelenggaraan Lesson Study dapat dilakukan dalam dua tipe: (a) Lesson Study berbasis sekolah; dan (a) Lesson Study berbasis MGMP.
6. Lesson Study dilaksanakan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, meliputi : (a) tahapan perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); (c) refleksi (check); dan (d) tindak lanjut (act).

~ References:
1. ^ Imai, Masaaki (1986). Kaizen: The Key to Japan's Competitive Success. New York, NY, USA: Random House.
2. ^ Europe Japan Centre, Kaizen Strategies for Improving Team Performance, Ed. Michael Colenso, London: Pearson Education Limited, 2000
3. ^ "Dictionary entry for Kaizen". J/E's Dictionary Server. Jeffrey Friedl. http://dict.regex.info/cgi-bin/
j-e/dosearch?
sDict=on&H=PS&L=J&T=kaizen&WC
=none&FG=r&BG=b&S=26. Retrieved on 2009-02-12.
4. ^ Huntzinger, Jim (First Quarter 2002). "The Roots of Lean: Training within Industry—the origin of Kaizen". AME Target 18 (1): 13. http://www.leaninstituut.nl/
publications/Roots_of_Lean_TWI.pdf. Retrieved on 2008-05-09.
5. ^ Liker, J. (2006). The Toyota Way Fieldbook. New York, NY, USA: McGraw-Hill.

Terima Kasih semoga bermanfaat!
Hubungan Lokal:
1. RINI KOBA (Ririungan Nihongo Kota Banjar)
~Tempat Kumpul Orang Banjar Penggemar aneka Jepang~
2. Anime SMANSABAN Fans Club
3. Manbaul Ullum Japanese Studies

Silahkan Kunjungi:
1.http://www.banjarcyberschool.co.cc
(Sekolah Maya Kota Banjar)
2.http://www.bitedu.co.cc
(Televisi Internet Pendidkan Kota Banjar)


Arip Nurahman

Guru dan Dosen Profesional

Sabtu, 17 Juli 2010

MENDIDIK DENGAN KESABARAN

Ditambah dan ditulis ulang
Oleh: Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University

Sumber:

Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd
~Kepala Sekola SMA Labschool Jakarta

(http://labschool-unj.sch.id/)
Jakarta - Mitra Netra News - Setiap orang tua dan para pendidik harus mampu mendidik dengan sabar.

Demikian salah satu pokok pikiran yang disampaikan DR. Arief Rachman, M.Pd dalam presentasi singkatnya pada acara Seminar Sehari yang diadakan Persatuan Orang tua Penyandang Cacat Anak (Portupencana), bertempat di Gedung YPAC, Jl. Hang Lekiu III, Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Kedatangan pakar pendidikan yang satu ini memang sangat dinanti-nantikan oleh para peserta seminar. Dalam presentasi singkatnya tersebut, DR. Arief Rachman sangat menekankan pentingnya seorang guru dan orang tua memiliki kesabaran dalam mendidik, apalagi terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Arief menyatakan banyak guru dan orang tua yang tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap anak-anak.
Seringkali guru membawakan sikap yang keras terhadap murid-muridnya.

Menurut dia, hal seperti ini bukanlah cara yang tepat. Seorang guru harus bisa bersikap ramah dan menyenangkan kepada para siswanya.
Munculnya sikap-sikap tidak menyenangkan dari para orang tua dan guru ini, menurut Arief, disebabkan tidak adanya keikhlasan dalam berbuat.

Gaya penyampaian yang kocak dan penuh dengan contoh-contoh nyata dikehidupan sehari-hari, benar-benar menarik perhatian para peserta seminar. Mereka tertawa dan bersorak. Tampaknya penjelasan yang diberikan Ketua Badan Pengembang Lab. School ini dapat menyentuh ke hati para peserta.

Dalam presentasinya tersebut, Arief juga menekankan pentingnya orang tua dan guru untuk bisa mengontrol emosi. Orang tua dan guru yang berhubungan dengan anak berkebutuhan khusus diharapkan memiliki kesabaran ekstra.

Disamping itu Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan Bahasa Inggris ini juga meminta agar guru bisa memberikan pengajaran yang variatif kepada siswanya.

Menurut dia, guru harus lebih kreatif sehingga anak-anak dapat menyenangi setiap pelajaran yang diberikan. Kemampuan komunikasi dengan anak juga sangat diperlukan.
Orang tua dengan anak berkebutuhan khusus harus bisa memahami keinginan anak mereka.

Diakhir presentasinya Arief menegaskan bahwa pendidikan spiritual hendaknya dimasukkan kedalam setiap proses pendidikan.
Karena dengan adanya pendidikan spiritual ini akan memudahkan guru dan orang tua dalam membina anak-anak mereka.


Kunjungi Juga:

http://www.banjarcyberschool.co.cc
(Sekolah Maya Kota Banjar)


Arip Nurahman

Guru dan Dosen Profesional

Jumat, 18 Juni 2010

Defragmentasi Otak untuk Lebih Cerdas

Ditambah dan ditulis ulang
Oleh: Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University.


Tulisan Ringan

Sumber:
Romi Satria Wahono, B.Eng., M.Eng., D.Eng.

Founder Ilmu Komputer
(Doktor Sains Komputer Saitama University, Japan)
http://www.banjarcyberschool.co.cc
(Sekolah Maya Kota Banjar)

"Hmm, supaya pinter ya belajar mas hehehe."
Begitulah Om Romi, ketika ditanya, bagaimana kita bisa lebih Cerdas.
"Kalau dosen jawab seperti itu pasti disebut BASBANG alias basi banget Diskusi masalah kecerdasan manusia, tentu tidak bisa tanpa menyinggung masalah otak manusia, karena disini awal segala kisruhnya."

Kapasitas otak manusia sangat besar, bahkan ada yang menyebut tidak terbatas. Hanya sayangnya orang biasanya hanya menggunakan 1% dari otaknya, sedangkan orang jenius berhasil menggunakan 4-5% otaknya.

Lha kok bisa?
Dan bagaimana supaya kita juga bisa jadi cerdas?
Ikuti terus tulisan ini.
Otak manusia tersusun dari neuron-neuron yang jumlah totalnya mencapai 1 trilyun. Walaupun kecil, konon kabarnya satu neuron itu memiliki kecepatan pemrosesan yang setara dengan satu unit komputer.

Adam Kho lewat bukunya “I am Gifted, So Are You” mengatakan bahwa otak itu apabila dituliskan dalam bentuk digital akan menjadi tulisan sepanjang 10.5 juta kilometer. Ketika jarak terjauh bumi dan bulan itu sekitar 406.720 km, maka kapasitas otak kita setara dengan 25 kali perjalanan dari bumi ke bulan.

Tambahan informasi lagi, dari buku Super Great Memori dikatakan bahwa, jika setiap detik dimasukkan 10 informasi kedalam otak kita sampai 100 tahun, maka otak manusia masih belum terisi separuhnya.

Ada beberapa peneliti yang mencoba mengkuantifikasi kapasitas otak, ada yang menyebut 3 terabyte, dan ada juga yang menyebut mencapai 1000 terabyte. Sedemikian dahsyatnya kapasitas otak kita, tapi sayangnya kita hanya menggunakan kurang dari 1%nya. Dan orang jenius seperti Albert Einstein, konon kabarnya juga hanya menggunakan 5% dari seluruh kapasitas otaknya.

Artinya apa? Manusia memiliki kapasitas otak yang sama, yang implikasinya adalah sebenarnya kita semua memiliki daya tangkap terhadap suatu materi pembelajaran sama. Dan tidak ada manusia bodoh di muka bumi ini!

Lha kok, tapi di kelas ada yang cerdas dan ada yang tidak? Itu karena sistem retrieval (pencarian kembali) manusia berbeda-beda. Orang yang cerdas itu adalah orang yang memiliki sistem retrieval yang baik.

Seperti sebelumnya saya sebutkan diatas, kapasitas otak manusia mungkin mencapai 1000 terabyte, bayangkan seandainya laptop kita berkapasitas 1000 terabyte, pasti lambat melakukan pencarian file, apalagi kalau letak fisik filenya tidak tertata dengan baik alias terpecah-pecah di berbagai tempat dalam harddisk kita.

Trus gimana caranya supaya sistem retrievalnya bagus? Ada banyak cara komputasi yang bisa dilakukan, paling tidak untuk mengatasi informasi yang tidak tertata dengan baik, kita menggunakan tool defragmenter.

Defragmentasi? ya, lakukan defragmentasi pada otakmu!
Sebagai catatan, kata wikipedia, defragmentasi adalah sebuah proses untuk menangani berkas-berkas yang mengalami fragmentasi internal.
Sebuah berkas dikatakan terfragmentasi mana kala berkas tersebut tidak menempati ruangan yang saling berdekatan dalam penyimpanan fisik.

Fragmentasi dapat menyebabkan subsistem media penyimpanan melakukan operasi pencarian data yang lebih banyak, sehingga dengan kata lain berkas terfragmentasi dapat memperlambat kerja sistem, khususnya pada saat melakukan operasi yang berkaitan dengan media penyimpanan.

Jadi ketika kita menerima materi pelajaran, sebenarnya kita semua berhasil menangkap semua yang diajarkan oleh guru atau dosen kita. Namun ada yang kita simpan di bumi dan ada yang terlempar di bulan, inilah yang disebut dengan fragmentasi itu.

Trus gimana caranya supaya kita bisa mendefragmentasi otak kita? Caranya adalah dengan mengulang-ulangi pelajaran. Mengulang-ulang pelajaran, itu sama saja dengan menarik materi yang terlempar di bulan tadi supaya mendekat ke bumi, sehingga lebih cepat ketika kita mencari kembali.

Dan ini sesuai dengan yang dikatakan Adam Kho, bahwa orang yang cerdas adalah orang yang neuron-neuronnya saling tersambung (neuron-connection). Semakin banyak hubungan antarneuron, maka semakin cerdas kita dalam suatu bidang.

Kecerdasan itu bisa kita latih!
Sayapun tidak terlahir secara default sebagai orang cerdas, masa TK-SD saya pernah mengalami kendala sulit membedakan huruf b dan d. Sampai ada satu ungkapan guru saya yang masih saya ingat sampai sekarang, “Rom, b itu yang bokong(pantat)nya dibelakang, dan d itu yang bokongnya di depan“.

Ada juga guru yang menyebut saya terkena disleksia kompleks, plus ditambahi dengan anak yang suram masa depannya hehehe sempurna deh
Jadi? Kalau saya yang disleksia kompleks saja bisa, kenapa anda tidak?

Wahai pedjoeangku, ulang-ulangi pelajaran, banyak mencoba, banyak membaca, banyak berlatih, telani satu persatu hal yang belum kamu pahami, hubungkan neuron-neuronmu, maka kecerdasan akan mengikutimu …

Tetap dalam perdjoeangan!


Arip Nuarahman

Guru dan Dosen Profesional

Selasa, 18 Mei 2010

Membangun SDM Dasar Kota Banjar dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


Tulisan Berseri Pengelolaan Pendidikan Internasional Part-2


Oleh: Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University.


"Dia(Alloh S.W.T.)mengajarkan kepada manusia apa yang mereka tidak ketahui"
(QS 96: Al-Alaq: 5)

1. http://www.pgpaud.org/
(PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI/PG-PAUD)
2.http://www.pnfi.depdiknas.go.id/download/20090630085425/PAUD.html
(Pedoman dan Petunjuk Teknis Penyaluran Dana Bantuan Pendidikan Anak Usia Dini)
3.http://www.banjarcyberschool.co.cc
(Sekolah Maya Kota Banjar)
4.http://www.bitedu.co.cc
(Televisi Internet Pendidikan Kota Banjar)
5. http://fip.upi.edu/
(Fakultas Ilmu Pendidikan UPI)

~ Abstract
Early childhood education regards education in early childhood, one of the most vulnerable stages in life. According to the NAEYC (National Association for the Education of Young Children), it spans the human life from birth to age eight.

Kota Banjar haruslah mempunyai visi , misi kedepan yang terarah dan terukur, untuk menjalankan visi dan misinya tersebut, salah satunya diperlukan SDM yang berkualitas tinggi serta mumpuni. Pendidikan merupakan prioritas utama yang harus diperhatikan, dikembangkan dan tidak boleh dianggap main-main dalam penyelenggaraannya. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) menjadi awal mula generasi muda Kota Banjar tercinta mengecap pendidikan Dasar Awal, tentunya harus diperhatikan secara signifikan dan intensif.
Allhamdulilah, Kota Banjar beberapa waktu yang lalu memperoleh penghargaan dalam bidang pendidikan ini, semoga prestasi ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan lagi menuju tataran Nasional dan Internasional.

~ Intro:
1. Akreditasi

Program Studi Pendidikan Guru Anak Usia Dini telah diakreditasi dengan nilai B berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Departeman Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 010/BAN – PT/Ak-X/S1/V/2007 tanggal 19 Mei 2007.

2. Gelar Lulusan

Gelar yang diperoleh dari lulusan program studi ini adalah Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

3. Visi

Pada tahun 2010 Jurusan/Program Studi Pendidikan Guru Anak Usia Dini yang memiliki keunggulan kompetitif dalam pengembangkan anak usia dini di Indonesia untuk menwujudkan masyarakat Indonesia yang maju, demokrasi dan sejahtera.

4. Misi

Jurusan/Program studi Pendidikan GuruAnak Usia Dini mengemban misi sebagai berikut:

* Menyelenggarakan pendidikan bagi calon pendidik anak usia dini yang profesional.
* Menyelenggarakan penelitian mengenai pendidikan anak usia dini
* Menjalin kerjasama dengan stakeholders untuk melakukan pembinaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan pada lembaga pendidikan anak usia dini
* Melaksanakan pengabdian di masyarakat dalam upaya mengembangkan pendidikan anak usia dini di Indonesia.

~ Contents:
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk:

1. Taman Kanak-kanak (TK),
2. Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk:

1. Kelompok Bermain (KB),
2. Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

~ Developmental domains
There are five different developmental domains of children which all relate to each other. They are easily referred to as the SPICE of life:

* Social-Refers mostly to the ability to form attachments, play with others, co-operation and sharing, and being able to create lasting relationships with others.
* Physical - Development of Fine (small) and Gross (large) Motor Skills.
* Intellectual - The process of making sense of the world around them.
* Creative - The development of special abilities creating talents. Music, Art, Writing, Reading, and Singing are all ways for creative development to take place.
* Emotional - Development of self-awareness, self-confidence, and coping with feelings as well as understanding them.
* Cognitive development - Concerning how children think and react.

Psychosocial According to Jean Piaget, there are four major stages of cognitive development:

1. Sensorimotor Stage. This stage occurs between the ages of birth and two years of age.Sensorimotor (infancy): During this stage, which includes six distinct substages, intelligence is demonstrated through motor activity with limited use of symbols, including language; the infant’s knowledge of the world is primarily based on physical interactions and experiences.

2. Preoperational Stage. The second stage occurs between the ages of two to seven years of age.During this stage,intelligence is increasingly demonstrated through the use of symbols; memory and imagination are developed as language use matures; thinking is nonlogical, nonreversible, and egocentric.

3. Concrete Operations Stage. Occurring between ages 7 and about 12 years. During this stage—characterized by conservation of number, length, liquid,mass, weight, area, volume—intelligence is increasingly demonstrated through logical and systematic manipulation of symbols relating to concrete objects; thinking is operational, reversible, and less egocentric.

4. Formal Operations Stage. The final stage of cognitive development (from age 12 and beyond)During this final stage, intelligence is demonstrated through the logical use of symbols related to abstract concepts; thinking is abstract, hypothetical, and early on, quite egocentric; it is commonly held that the majority of people never complete this stage.

* Emotional Development - Concerning children's increasing awareness and control of their feelings and how they react to these feelings in a given situation.
* Social Development - Concerning the children's identity, their relationships with others, and understanding their place within a social environment


Kebutuhan Pendidikan Anak Usia Dini Jangan Ditunda
(Belajar kepada Provinsi Sulawesi Utara). Usia dini pada nol sampai dengan 6 tahun merupakan usia emas yang harus mendapatkan perhatian maksimal. Pada usia tersebut, jika mendapatkan perhatian yang baik akan mampu mewujudkan kesejahteraan di masa yang akan datang.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) bagaikan pondasi yang kuat dan kokoh bagi perkembangan anak. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo menegaskan, agar jangan menunda kebutuhan bagi anak usia dini.

"Jangan menunda kebutuhan anak usia dini khususnya yang berkaitan dengan pendidikan, pelatihan, perlindungan, gizi, dan kesehatannya karena kalau ditunda maka lewatlah masa emas tersebut.
Mengingat pentingnya PAUD bagi anak usia dini maka pemerintah telah menetapkan kebijakan PAUD yang holistik terintegrasi," kata Mendiknas saat membuka acara Gebyar PAUD di lapangan Vatulemo, Palu, Sulawesi Tengah, 30/06/2009).

Hadir pada acara Gubernur Sulawesi Tengah Bandjela Paliudju, Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas Hamid Muhammad, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto, Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Sulawesi Tengah Abubakar Almahdali dan sebanyak 2.500 anak usia dini dan orang tua murid baru.

Gebyar PAUD yang baru pertama kali diselenggarakan di Indonesia ini dirangkai dengan kegiatan pameran. Sebanyak 42 stand pameran pesertanya berasal dari warga pendidikan nonformal dan informal. Pameran khusus pendidikan ini akan berlangsung sampai dengan 2 Juli 2009.

Mendiknas mengatakan, anak yang mengikuti PAUD akan lebih giat mengikuti pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Menurut Mendiknas, hal ini berarti juga akan menurunkan angka putus sekolah. "Pada akhirnya akan menurunkan biaya pendidikan yang dikeluarkan oleh orang tua maupun pemerintah di jenjang pendidikan berikutnya," katanya. PAUD, kata Mendiknas, juga merupakan fondasi untuk menanamkan nilai - nilai luhur pada anak dan cinta kepada sesama. Pemerintah, lanjut Mendiknas, telah berketetapan untuk terus berupaya agar seluruh anak usia dini di Indonesia dapat memperoleh layanan PAUD yang makin baik.

Kebijakan pemerintah ini, kata Mendiknas, hanya akan terwujud apabila didukung oleh pemerintah daerah dan masyarakat. "Layanan PAUD yang lebih merata dan bermutu harus segera direalisasikan karena usia dini merupakan usia emas perkembangan anak. Insya Allah kita akan memiliki generasi penerus yang handal," ujarnya.

Mendiknas mengatakan, angka partisipasi kasar (APK) PAUD di Provinsi Sulawesi Tengah masih relatif rendah . Untuk usia 0 - 6 tahun APK-nya baru mencapai 38,8 persen. Angka ini, kata Mendiknas, masih jauh dari target nasional 53,6 persen. "Ini berarti masih banyak anak usia dini di Sulawesi Tengah yang belum memperoleh layanan PAUD," katanya. Mendiknas menjelaskan, secara umum jumlah anak usia dini dipengaruhi oleh tingkat kelahiran anak setiap tahun. Mendiknas menyebutkan, tingkat kelahiran anak di Indonesia per tahun masih sangat besar yaitu mencapai sekitar empat juta jiwa.

"Jumlah anak usia dini lebih besar dari populasi anak usia sekolah dasar, madrasah ibtidaiyah, dan yang setara. Bahkan lebih besar dari seluruh penduduk Malaysia," katanya.

Gubernur Sulawesi Tengah Bandjela Paliudju menyampaikan, pendidikan anak usia dini akan difokuskan terhadap penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas dan kuantitas. Dia mengatakan, salah satu program terpadu pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Tengah dalam upaya meningkatkan APK PAUD adalah dengan mengintegrasikan dengan kegiatan Posyandu yang melibatkan dinas pendidikan dan dinas kesehatan. "Kegiatan tersebut telah dikemas dalam bentuk road show ke kabupaten dan kota," katanya.

Bandjela menyebutkan, penduduk Provinsi Sulawesi Tengah sebanyak 179.887 jiwa usia 2 - 4 tahun, sedangkan yang belajar di PAUD baru sebanyak 21.963 jiwa. Artinya, kata dia, kurang lebih angka partisipasi anak usia PAUD baru 12 persen, sehingga masih cukup rendah bila dibandingkan dengan angka partisipasi anak usia pendidikan dasar yang mencapai di atas 90 persen. "Oleh karena itu, kegiatan Gebyar PAUD ini merupakan sosialisasi yang diperlukan agar masyarakat Sulawesi Tengah semakin sadar dan memahami betapa pentingnya pendidikan anak usia dini," katanya.

~ wallohualam:
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar...(QS 3: Ali Imran: 110)

Terima kasih kepada:
Orang Tua dan Guru-Guru serta sahabat-sahabat semuanya. Pihak-pihak yang telah mendukung terangkainya tulisan inovasi, riset dan pengembangan ini. Alhamdulilah.

Penulis:
Mahasiswa Pendidikan Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia & Open Course Ware at MIT-Harvard University
Juga pengajar di TPA/RA Al-Wushto Isola Bumi Siliwangi UPI, Bandung.

Minggu, 18 April 2010

Kompetisi Matematika Amerika 8

AMERICAN MATHEMATICS COMPETITION 8

Ditambah dan ditulis ulang
Oleh: Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University


http://www.unl.edu/amc/index.shtml
(American Mathematics Competition)
http://www.tokobaedu.co.cc
(Tim Olimpiade Kota Banjar)
http://tomikoba.blogspot.com/
(Tim Olimpiade Matematika Kota Banjar)

Terima Kasih kepada:
Wael Alghamdi
(Dept. of Mathematics Massachusetts Institute of Technology)

~Seleksi di Indonesia
"Ki Bujangga ujaring maranggi, ditampina ku tawis pertanda, tangtos moal sapagodos, gelar-galur dua-tilu, reh nul-nutkeun jalanna dangding, sami gaduh ukiran, tah eta teh kitu, numutkeun pinter rajinna, nu perceka ingkar tina basa Kidib, ngantun kana hianat."
~Pupuh Dangdanggula~

"Life is good for only two things, discovering mathematics and teaching mathematics"
~Siméon Poisson~

Surya Institute (SI) together with Maths Oasis Pte. Ltd. and the Committee of the American Mathematics Competitions cordially invite your students to participate, along with many students worldwide, in the 2009 American Mathematics Contest (AMC) 8.

Date
Tuesday, November 17th (3 pm).
Venue

1. Global Nusantara International School – Meruya, West Jakarta
2. Bina Nusantara International School (in confirmation)-Serpong, Tangerang
3. Global Prestasi International School – Bekasi, West Java

Contest Registration Fee:

• Agustus - 10 September 2009 Rp 150.000
• 11 September - 30 Oktober 2009 Rp 175.000
• 31 Oktober - 12 November 2009 Rp 250.000

Transfer the Registration Fee to:
Yayasan Surya Institute
BCA, Branch : Supermal Karawaci
Account Number 7610358611

(Please fax the transfer receipt)
Contest Format :
• 25 multiple-choice questions

• Time limit : 40 minutes

• Pencil 2B is required (computerize answer sheet)

• No calculator

• No penalty for wrong answers

For inquiries, please contact Ms. Yuliana/Elia/Yulita by phone, sms, or email.

Phone : +6221 53163394-98 ext. 306 (working hour 8.30 WIB – 17.00 WIB)

SMS : +62856 926 230 56

Email : mat.asyik@gmail.com

Kompetisi di Amerika

2008-2009 Contest Dates:
November 18, 2008

The AMC 8 is a 25 question, 40 minute multiple choice examination in middle school mathematics designed to promote the development and enhancement of problem solving skills.

The examination provides an opportunity to apply the concepts taught at the junior high level to problems which not only range from easy to difficult but also cover a wide range of applications.

Many problems are designed to challenge students and to offer problem solving experiences beyond those provided in most junior high school mathematics classes.

Calculators are not allowed starting in 2008. High scoring students are invited to participate in the AMC 10.

A special purpose of the AMC 8 is to demonstrate the broad range of topics available for the junior high school mathematics curriculum. This is done by competencies.

The AMC 8 has the potential to increase the perceptions of the importance of problem solving activities in the mathematics curriculum by stimulating these activities both preceding and following the examination —specifically by studying the solutions manual.

Additional purposes of the AMC 8 are to promote excitement, enthusiasm and positive attitudes towards mathematics and to stimulate interest in continuing the study of mathematics beyond the minimum required for high school graduation.

Developmentally, junior high school students are at a point where attitudes toward school and learning, and perceptions of themselves as learners of mathematics are solidified.

It is important that they be provided opportunities that foster the development of positive attitudes towards mathematics and positive perceptions of themselves as learners of mathematics. The AMC 8 provides one such opportunity.

We encourage all students in grades 6, 7 and 8 to participate in the AMC 8. All USA, USA embassy, Canadian and foreign school students in grade 8 or below are eligible to participate.
AMC 8 Intramural Awards

* A Certificate of Distinction is given to all students who receive a perfect score.

* An AMC 8 Winner Pin is given to the student(s) in each school with the highest score.

* The top three students for each school section will receive respectively a gold, silver, or bronze Certificate for Outstanding Achievement.

* An AMC 8 Honor Roll Certificate is given to all high scoring students.

* An AMC 8 Merit Certificate is given to high scoring students who are in 6th grade or below.

The members of the Committee on the American Mathematics Competitions (CAMC) are dedicated to the goal of strengthening the mathematical capabilities of our nation's youth.

The CAMC believes that one way to meet this goal is to identify, recognize and reward excellence in mathematics through a series of national contests called the American Mathematics Competitions.

The AMC include: the American Mathematics Contest 8 (AMC 8) (formerly the American Junior High School Mathematics Examination) for students in grades 8 and below, begun in 1985; the American Mathematics Contest 10 (AMC 10), for students in grades 10 and below, new in 2000; the American Mathematics Contest 12 (AMC 12) (formerly the American High School Mathematics Examination) for students in grades 12 and below, begun in 1950; the American Invitational Mathematics Examination (AIME), begun in 1983; and the USA Mathematical Olympiad (USAMO), begun in 1972.

On Thursday, May 11, 1950 the first Mathematical Contest, sponsored by the New York Metropolitan Section of the Mathematical Association of America (MAA) took place.

It was given in 238 schools to 6,000 students in the New York area only. Today the contest is taken in every state and around the world. It is translated into braille, French, Spanish and Chinese, and has evolved into a series of five contests.

1950-2009
The
American
Mathematics
Competitions

Help us celebrate 60 years of the
American Mathematics Competitions
by registering your school to participate in the 60th annual
American Mathematics Contest 12
and the 10th annual American Mathematics

Contest 10. The AMC 10 is
designed for 9th and 10th grade students, and the AMC 12 is designed for 11th and 12th grade students.

Participation & Eligibility

Both AMC 10 and AMC 12 are 25-question, 75-minute multiple-choice contests administered in your school by you or a designated teacher. The AMC 12 covers the high school mathematics curriculum, excluding calculus.

The AMC 10 covers subject matter normally associated with grades 9 and 10. To challenge students at all grade levels, and with varying mathematical skills, the problems range from fairly easy to extremely
difficult. Approximately 12 questions are common to both contests. Students may not use
calculators on the contests.

AMC 12 Eligibility – A student in a program leading to a high school diploma, and under 19.5 years of age on the day of the contest.

AMC 10 Eligibility – A student in a program leading to a high school diploma, under 17.5 years of age on the day of the contest, and not
enrolled in grades 11 or 12 or equivalent.

Home schools must indicate the site of the exam (not the student’s home) and the name of the proctor (not a parent) and attach this information to the registration form. Please call
the AMC office for details.

PURPOSE

The Mathematical Association of America wants to increase interest in mathematics and to develop problem solving through a friendly,
and fun, competition. We believe that one way to meet this goal is to identify, recognize, and reward excellence in mathematics through a series of national contests.

Sample Questions

2008 AMC 10A

12. In a collection of red, blue, and green marbles,
there are 25% more red marbles than blue
marbles, and there are 60% more green marbles
than red marbles. Suppose that there are r red
marbles. What is the total number of marbles in
the collection?

(A) 2.85r
(B) 3r
(C)3.4r
(D) 3.85r
(E) 4.25r

2008 AMC 10A/12A

10A-4; 12A-3. Suppose that ⅔ of 10 bananas are
worth as much as 8 oranges. How many oranges
are worth as much as ½ of 5 bananas?
(A) 2
(B) 5/2
(C) 3
(D) 7/2
(E) 4

10A-13; 12A-10. Doug can paint a room in 5 hours.
Dave can paint the same room in 7 hours. Doug
and Dave paint the room together and take a
one-hour break for lunch. Let t be the total time,
in hours, required for them to complete the job
working together, including lunch. Which of the
following equations is satisfied by t ?

(A) (1/5+1/7) (t + 1) = 1
(B) (1/5+1/7) t + 1 = 1
(C) (1/5+1/7) t = 1
(D) (1/5+1/7) (t – 1) = 1
(E) (5 + 7)t = 1

2008 AMC 12A

14. What is the area of the region defined by the
inequality |3x – 18| + |2y + 7| ≤ 3 ?

(A) 3
(B) 7/2
(C) 4
(D) 9/2
(E) 5

18. Triangle ABC, with sides of length 5, 6, and 7,
has one vertex on the positive x-axis, one on
the positive y-axis, and one on the positive zaxis.
Let O be the origin. What is the volume of tetrahedron OABC?

(A) √ 85
(B) √ 90
(C) √ 95
(D) 10
(E) √105

"Ilmuwan sejati selalu membaca dan menulis. Tanpa membaca ia berada dalam kegelapan, tanpa menulis ia tidak mencerahkan umat yang berada dalam kegelapan."
~Prof. Dr. H. A. Chaedar A., M.A., Ph.D.~
Guru Besar UPI

"Jangan takut jadi miskin karena mempelajari sains. Sebab, urusan rizki itu urusan Allah SWT."
~Prof. Freddy Permana Zen, D.Sc. Guru besar fisika tingkat tinggi ITB~
Semoga Berhasil!



Arip Nuarahman

Guru dan Dosen Profesional

Minggu, 07 Maret 2010

Konferensi Internasional Lesson Study Ke-2 dalam Upaya Peningkatan Kualitas Guru

Sebuah Perbandingan di Negara Jepang
1.http://www.naruto-u.ac.jp/
(Naruto University of Education )
2.http://www.id.emb-japan.go.jp/infcul.html
(Kedubes Jepang bagian Pendidikan dan Kebudayaan)
3. http://www.jpf.or.id/
(Japan Foundation)
4. http://www.jica.or.id/
(Japan International Cooperation Agency)
“Lesson Study: Learning reform for Quality Improvement in Education”

~ Lesson Study in Japan
Prof. Hiroaki Ozawa, Ph.D.
(International Cooperation Center for the Teacher Education and Training)
Naruto University of Education, Naruto 772-8502, Japan.
e-mail: hiroaki@naruto-u.ac.jp

~ Preface:
"Shippai wa Seikô no Moto"
(Kesalahan adalah Pangkal Kesuksesan)
"Warau Mon niwa Fuku Kitaru"
(Keberuntungan akan Datang di Tempat yang Ada Tawanya)

The committee appreciates your contribution and participation in the 2nd International Conference on Lesson Study. Your participation in the conference will create an information exchange forum to share best practice of lesson study.
It is expected that we will come up with a common understanding of the various aspect of lesson study implementation for improving learning quality.

~ Abstract
Lesson study is an activity by teachers and for teachers to improve their lessons through their collaboration. Lesson study is cyclical process and involves planning the lesson (Plan), presentation of a lesson (Do), and reflecting on the lesson (Check) to improve next lesson (Action).

In Japan, lesson study methodology is introduced to future teachers in pre-service training. University student learn how to make lesson plans, how to develop teaching and learning materials, how to discuss in post lesson conference. Lesson study is applied in various situations for in-service training for mentoring a novice teacher, an experience teacher is assigned and they teach in the same class, observe each other and exchange opinions after the lessons.

Lesson study is one of important components for annual school improvement activity. Research objectives of the school are set based on the current situation of students and organization for lesson study is established.
Lesson study is conducted monthly or bimonthly as short PDCA (Plan, Do, Check, Action) cycle.
The changes of the students are assessed at the end of year (Long PDCA cycle). Also there are voluntary associations for teachers who conduct Lesson study.

~ Sekilas Lesson Study
Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk :
(1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar;
(2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran;
(3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif.
(4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.

~ Manfaat yang yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya:

(1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya,
(2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan
(3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari:
(a) Perencanaan (plan);
(b) Pelaksanaan (do);
(c) Refleksi (check);
dan
(d) Tindak lanjut (act).

~ Hakikat Lesson Study
Konsep dan praktik Lesson Study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah kenkyuu jugyo. Adalah Makoto Yoshida, orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan kenkyuu jugyo di Jepang.

Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan Lesson Study tampaknya mulai diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993.

Sementara di Indonesia pun saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada awalnya, Lesson Study dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan pendidikan tinggi.

Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data.

Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial.

Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Sementara itu, Catherine Lewis (2002) menyebutkan bahwa:

“lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.

Bill Cerbin & Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk :
(1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar;
(2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta Lesson Study;
(3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif.
(4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu:

Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.

Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa. Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.

Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung.

Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.

Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis mengemukakan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat:
(1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa,
(2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan,
(3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study),
(4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa,
(5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran,
(6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan
(7) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas.

Sementara itu, menurut Lesson Study Project (LSP) beberapa manfaat lain yang bisa diambil dari Lesson Study, diantaranya:
(1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya,
(2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan
(3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, manfaat yang ketiga ini dapat dijadikan sebagai salah satu Karya Tulis Ilmiah Guru, baik untuk kepentingan kenaikan pangkat maupun sertifikasi guru.

Terkait dengan penyelenggaraan Lesson Study, Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan Lesson Study, yaitu Lesson Study berbasis sekolah dan Lesson Study berbasis MGMP.
Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan.

Sedangkan Lesson Study berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi.

Dalam hal keanggotaan kelompok, Lesson Study Reseach Group dari Columbia University menyarankan cukup 3-6 orang saja, yang terdiri unsur guru dan kepala sekolah, dan pihak lain yang berkepentingan. Kepala sekolah perlu dilibatkan terutama karena perannya sebagai decision maker di sekolah.

Dengan keterlibatannya dalam Lesson Study, diharapkan kepala sekolah dapat mengambil keputusan yang penting dan tepat bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya, khususnya pada mata pelajaran yang dikaji melalui Lesson Study. Selain itu, dapat pula mengundang pihak lain yang dianggap kompeten dan memiliki kepedulian terhadap pembelajaran siswa, seperti pengawas sekolah atau ahli dari perguruan tinggi.

~ Terima Kasih Semoga Bermanfaat!
Hubungan Lokal:
1. RINI KOBA (Ririungan Nihongo Kota Banjar)
~Tempat Kumpul Orang Banjar Penggemar aneka Jepang~
2. Anime SMANSABAN Fans Club
3. Manbaul Ullum Japanese Studies

1. http://www.banjarcyberschool.co.cc
(Sekolah Maya Kota Banjar)
2. http://www.bitedu.co.cc
(Televisi Internet Pendidkan Kota Banjar)

Selasa, 18 Agustus 2009

Perbandingan Pendidikan Usia Dini & Dasar di Jepang

Sebuah Perbandingan antara Indonesia dan jepang

Ditulis Ulang Oleh: Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University.


~ Sources:
1. Prof. Ishizaka Kazuo, Ph.D.
(Chief of Research Section of National Institute for Educational Research
Kato Koji, Professor of Education, Sophia University)

2. Mr. Ken Noguchi, Kepala Bagian Pendidikan, Kedutaan Besar Jepang di Indonesia
(Bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang
Jl. M.H. Thamrin 24, Jakarta 10350
Tel : 021-3192-4308 (Hunting)
Fax : 021-3192-4820
E-mail : beasiswa@eoj.ntt.net.id
URL : http://www.id.emb-japan.go.jp
Jam Kerja : Senin-Jumat, 08:30-16:00 WIB (12:30-13:30 WIB Istirahat)

"Hanya satu saja pertanyaan Kaisar Hirohito pada saat itu (Ketika Hirosima dan Nagasaki dimusnahkan oleh bom atom) ialah:, "Apakah guru masih ada yang hidup?" Hirohito tidak menanyakan yang lain, tetapi hanya menanyakan guru. Begitu diketahui bahwa guru masih ada yang hidup, beliau pun tersenyum."

~ Abstract
In Japan, education is compulsory at the elementary and lower secondary levels. Virtually all students progress to the upper secondary level, which is voluntary. Most students attend public schools through the lower secondary level, but private education is popular at the upper secondary and university levels.

~ Intro:
"Guru dan Dosen adalah ujung tombak bangsa Indonesia. Kalau mau memiliki Universitas Kelas Dunia, Perekonomian Kelas dunia, Olahragawan Dunia. Mari kita junjung tinggi profesionalisme guru dan dosen. Guru hebat murid super dahsyat". TK atau youchien (幼稚園)bertujuan untuk mengasuh (保育) anak-anak usia dini, memberikan lingkungan yang layak bagi perkembangan jiwa anak.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam artikel no 78 dijelaskan tata caranya :

1. Merancang pendidikan yang mengembangkan fungsi tubuh dan jiwa secara harmoni melalui pembiasaan pola hidup yang sehat, aman dan menyenangkan.

2. Menumbuhkan semangat kemandirian, kehidupan berkelompok yang penuh kegembiraan dan kerjasama.

3. Mengenalkan kehidupan sosial dan membina kemampuan bersosialisasi

4. Mengarahkan penggunaan bahasa dengan benar serta menumbuhkan minat berkomunikasi dengan sesamanya.

5. Mengarahkan minat untuk berkreasi melalui pembelajaran musik, permainan, menggambar dan lain-lain.

TK mengintrepretasikan tujuan tersebut dalam silabus pembelajaran yang saya pikir hampir sama di setiap sekolah.

~ Contents:
Shōgakkō (小学校) are elementary schools in Japan.
More than 99% of Japanese elementary school-age children are enrolled in school. All children enter first grade at age six, and starting school is considered a very important event in a child's life.

Virtually all elementary education takes place in public schools; less than 1% of the schools are private. Private schools tended to be costly, although the rate of cost increases in tuition for these schools had slowed in the 1980s.
Some private elementary schools are prestigious, and they serve as a first step to higher-level private schools with which they are affiliated, and thence to a university. Competition to enter some of these "ladder schools" is quite intense.

Although public elementary education is free, some school expenses are borne by parents, for example, school lunches and supplies. For many families, there are also nonschool educational expenses, for extra books, or private lessons, or juku.
Such expenses rose throughout the 1980s, reaching an average of 184,000 Yen in FY 1987 for each child. Costs for private elementary schools are substantially higher.
Elementary school classes are large, about thirty-one students per class on average, but higher numbers are permitted.

Students are usually organized into small work groups, which have both academic and disciplinary functions.
Discipline also is maintained, and a sense of responsibility encouraged, by the use of student monitors and by having the students assume responsibility for the physical appearance of their classroom and school.

~ Sebuah pengalaman
Ketika melihat foto anak-anak sedang mengikuti kegiatan di shougakkou (SD) dan youchien (TK), mata sempat tertuju pada foto kegiatan bersih-bersih pantai.

Foto di sepanjang jalan menuju pantai ketika anak-anak kelas 1 SD digandeng oleh kakak kelas 6. Ada satu hal yang menarik di sini, anak-anak yang baru memasuki tahap SD (kelas 1) masing-masing mempunyai pendamping dari anak-anak yang mau lulus SD (kelas 6).

Setiap kegiatan sekolah yang melibatkan semua kelas, fenomena pendamping kelas 6 untuk kelas 1 selalu ada. Kalau Kita (Muslim) menganalogikan dengan hijrah Nabi, dimana kaum Muhajirin yang baru datang betul-betul terbantu oleh kaum Anshar.

Ada lagi yang menjadi perhatian kami adalah setiap ada event di sekolah, misalnya pertunjukan di panggung dan pertandingan (happyoukai, undokai, marason, dan lainnya) selalu ada pembagian tugas yang sangat rapi antar guru dan staf lain, setiap orang selalu siap dengan pos tugasnya sendiri, cepat dan tepat, sehingga kegiatan selalu diawali dan diakhiri tepat waktu.
Kalau di SD anak-anak kelas besar (kelas 5 dan 6) sudah mendapat jatah tugas ini. Pengalaman menyenangkan selama bersekolah di sekolah Jepang akan menjadi kenangan indah bagi anak-anak.

Pelajaran sekolah yang menyenangkan yang tidak terlalu banyak beban, tidak ada istilah "tidak naik kelas" karena semua anak pasti naik kelas, dan kegiatan-kegiatan sekolah lainnya yang lebih memupuk anak ke arah kreatifitas berpikir dan berkarya.

Pendidikan dasar di Jepang lebih didominasi pendidikan bahasa dan olah raga. Bahasa Jepang yang meliputi hiragana, katakana, dan ribuan kanji memang dimulai sejak dini. Pelajaran olah raga yang cukup banyak dan kebiasaan berjalan kaki ke sekolah cukup menempa jasmani anak-anak. Semoga yang positif ini membawa manfaat bagi anak-anak yang sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar di Jepang.

~ Conclusion:
Hendaknya kita harus serius dan tidak main-main dalam masalah pendidikan, terutama pendidikan usia dini dan dasar. Pendidikan pada tahap ini haruslah diperhatikan dan ditangani secara professional. Kita harus semangat dan optimis terhadap pendidikan dan masa depan bangsa kita, khususnya Kota Banjar tercinta, mari kita bangun pendidikan yang lebih baik.

~ Acknowledgements:
Kepada orang tua, guru-guru tercinta, serta teman dan sahabat, terima kasih atas dukungan kalian. Tanpa kalian semua saya bukan apa-apa, itulah kenapa kekeluargaan, persahabatan merupakan harta yang tidak ternilai harganya.

"Sabishisa wo toute kurenu ka kiri hito-ha"
~A paulownia leaf has fallen; Will you not come to me in my Loneliness?~

Terima Kasih semoga bermanfaat!
Hubungan Lokal:
1. RINI KOBA (Ririungan Nihongo Kota Banjar)
~Tempat Kumpul Orang Banjar Penggemar aneka Jepang~
2. Anime SMANSABAN Fans Club
3. Manbaul Ullum Japanese Studies

Silahkan Kunjungi:
1.http://www.banjarcyberschool.co.cc
(Sekolah Maya Kota Banjar)
2.http://www.bitedu.co.cc
(Televisi Internet Pendidkan Kota Banjar)
3.http://murniramli.wordpress.com/
(Berguru)
4.http://ksuheimi.blogspot.com/2009/01/guru-adalah-pahlawan.html


Arip Nurahman

Guru dan Dosen Profesional

Selasa, 17 Maret 2009

11 Resep Sukses Bangsa Jepang untuk Kota Banjar

Di Muat ulang Oleh:
Arip Nurahman

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
&
Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University.


Sumber dari:

Bpk. Romi Satria Wahono, B.Eng., M.Eng., D.Eng.
(Doktor Ilmu Komputer, Saitama University, Jepang. Founder Ilmu Komputer & E-Univerity)

http://banjarcyberschool.blogspot.com/
(Sekolah Maya Kota Banjar)
http://www.youtube.com/user/BanjarIntTelevision
(Televisi Internet Pendidikan Kota Banjar)

"Tidak semua budaya dan kebiasaan Jepang itu baik ditiru, budaya kita toh lebih kaya dan bervariasi, Indonesia secara ghitu. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan dapat mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional. Diperkirakan Indonesia mempunyai 20.900 orang lebih genius dari pada Albert Einstein"

Mari Menuju Kota Banjar yang IDAMAN:

Indah, Damai, Asri dan Mandiri

1. KERJA KERAS

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika(1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680jam/tahun).

Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang.

Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. MALU

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran.

Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat(menteri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagalmenjalankan tugasnya.

Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur ditengah jalan.

Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. HIDUP HEMAT

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap antikonsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30.

Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelumtutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. LOYALITAS

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.

Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (corebusiness) perusahaan.

5. INOVASI

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.
Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu.

Sampai tahun 1995, tercatatlebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk.

Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. PANTANG MENYERAH

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi.

Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia.

Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita. Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo.

Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian.

Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk CasseteTape nya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).

7. BUDAYA BACA

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran.Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca.

Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yangmembuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb).

Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern.
Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. KERJASAMA KELOMPOK

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik.Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut.

Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang.

Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan 1 orang professor Amerika. Tapi 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebutdengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam”rin-gi”.

9. MANDIRI

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Anak TK (Yochien) di Jepang harus membawa 3 tas besarberisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya.

Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua.

Mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. IMAJINASI

Dora Emon, Dragon Ball, Gundam Wings, dll. Jangan tanya seberapa hebat imaginasi orang Jepang, tengok saja film-film anime, komik-komiknya, dan kartun-kartun anak-anak yang menyerbu berbagai negara di belahan dunia, ini berakibat kepada tingkat kreatifitas mereka yang begitu tinggi.

11. JAGA TRADISI

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang.

Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “haik” belum tentu “ya” bagi orang Jepang.

Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian.

Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Mungkin seperti itu 11 resep sukses yang bisa saya rangkumkan.

Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional.

Saya yakin ada faktor “non-teknis” yang membuat Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi.

Mari kita bersama mencari solusi untuk berbagai permasalahan republik ini.

Dan terakhir kita harus tetap mau belajar dan menerima kebaikan dari siapapun juga.

Kota Banjar Bisa!

Arip Nurahman

Guru dan Dosen Profesional